CCTV PADA PIKIRAN NOL

Siapakah Pemberi rasa rindu itu..?
begitu menghentak hati
dalam alunan nada slow, jazz, hingga stacato
aaah.. rindu bukanlah rasa yang biasa

Malaikat kecil itu sang pencatat
seluruh geliat yang kesumat
atau… yang tersumbat
berbarengan akan mencuat
seperti titipan kilat

Ia mulai beredar dari kota
sampai ke pojok desa
banyak yang tersasar oleh ulah rupa rindu
namun bagi Sang Pemilik Rindu,
Dia tahu cara membaginya

Tak ada kiriman mawar biru
pada alamat palsu
tiada tempat bagi sang penipu
yang tertipu karena kesusu
dikiranya hidup itu tetap kemayu

Siapakah Pemberi rasa rindu itu ..?

Iklan

NEGERI KEDELAPAN

Sebuah tempat padat
dengan bermacam buah dan bunga
dari pepohonan nan rindang
Kita terdampar disana
melukis bayang pada gemerisik angin

Api tak terlihat apabila ia tak dijemput
meski matahari selalu menyala
udara pun senantiasa bersenandung
diantara kidung balada
serta angan

Akan tetapi, tanah yang kita pijak..
sesekali bergejolak
membuat penghuninya tak seimbang
Jiwa meronta…meradang…tak terpuaskan
mengejar kesenangan

Sesekali dedaunan berbisik
seperti halnya suara hewan yang berisik
bercerita tentang panggung sandiwara
yang kita perankan
sesuai tokoh pada skenarioNya

Berjuta mistery tak terungkapkan
ada luapan emosi dalam nurani
dan atau, terlena pada pilihan duniawi
yang sakral menuju ajal
disetiap perjalanan sang jiwa

Sandiwara apa yang sedang kita perankan?
dalam pelukan bianglala CintaNya
Karena, kotak pandora itu telah terbuka
kecurangan yang menghadirkan ketakutan
keserakahan yang akan membuahkan kehancuran

Begitulah negeri kedelapan
sebuah tempat yang padat
sebagian jiwa satu karat, satu nada, dan irama
tapi masih ada jiwa-jiwa yang menari tanpa ambisi
menuju puncak bahagia yang hakiki

Negeri kedelapan
Negeri dengan sejuta mistery.

~ Bertanya pada Luka ~

Luka hati
bagai tersayat sembilu
darah bergejolak
sakit
pedih
perih
membakar titik api kecewa
memicu segumpal amarah
pada jiwa

Luka bakar itu
panasnya sampai ke tulang sum-sum
urat dan daging bergetar
mendengung seperti sirene
jantung berdegup keras
seolah memberi perintah
kepada lapisan sel lain dalam raga
antisipasi ke arah sekelilingnya
aaah… Luka mencipta derita
serta angkara

Luka-luka kita masih terasa
luka yang mana?
luka asap yang lahir dari sang api
luka banjir
luka tanah longsor
luka gempa
luka papua
Luka-luka bumi pertiwi
korban ambisi
siapa yang mampu mengobati
kecuali..
ibu bumi dan bapak angkasa

Turunlah wahai Penduduk langit
keluarlah wahai Penjaga bumi
lihat…
Tanah ini terkoyak-koyak
Langit pun telah penuh sampah
aaaah… cerita apa lagi
yang dapat tersampaikan
kecuali kenyataan
yang amat sangat menyedihkan
ketika luka-luka berubah jadi uka-uka..

Luka semakin menganga
mengapa manusia saling melukai?
apakah telah kehilangan nurani
sehingga hancur jati diri
padahal kita hanya menumpang di sini
di planet bumi~

BERTANYA PADA WARNA

Warna adalah gerak perubahan
mengubah kelam jadi terang
dalam proses penyatuan
yang saling menghancurkan
menuju gelap atau gemerlap

Warna adalah semesta
langit, bumi, matahari, dan galaksi
warna adalah rupa-rupa kita
kota-kota sampai kotak mengotak
pada segala gaya dan daya warna

Warna selalu bergerak
bahkan pada setiap keputusan
bijaksana atau bijaksini
warna tetap terpatri
sebagai pertanda tiap diri

Warna adalah gairah darah
yang mengalir
kemudian bergejolak
seperti saat jiwa memberontak
hadapi orang-orang yang pekak

Warna bukan sekedar bentuk
tetapi wujud otentik
seperti skenario politik
tanpa titik
menggelitik kritik-kritik

Hitam dan putih hanya warna
kekuatan dayanya mampu
mengubah sikap raga
adakah dosa disana ?
dibalik keserakahan kita…

 

Jelaga di atas telaga

Perjalanan panjang
seperti rindu tanpa batas
kenangan demi kenangan
bagai jelaga yang terbang
mengapung
meninggalkan api unggun
pada bayang air di atas telaga

Malam ini,
aku berusaha mengingat
Lembaran kertas usang
sisa catatan yang telah jadi abu
tanah terdiam
angin berbisik :
…Lupakan itu.. !
Segalanya telah jadi arang

Di tepi telaga ini
sepi..
rombongan manusia itu
yang merusak alam disekitarku
pergi menjauh
airmataku menetes..
menyatu bersama jelaga
diatas riak air telaga

Aku hanya selembar daun
yang terbawa angin.. lalu
mendarat di bibir rerumputan
entah telah berapa kali,
angin membawaku terbang
dan, entah sampai kapan…?
angin berbisik :
…Lupakan itu.. !
Segalanya telah jadi arang~

Antara Matahari dan Matahati

Matahari telah lama ada
sebelum kita hadir
panas cahayanya membakar energi
jadi bagian dari sel tubuhmu
agar dapat berkarya
dapat mengembangkan keturunan
dapat berlari
bahkan dapat sembunyi
dari kenyataan

Andai Adam dan Hawa
tak terusir dari surga
karena tertutupnya matahati, maka…
tidaklah berkembang sampai sekarang
menjadi kita
kita yang telah saling mengenal
Budaya masing-masing
kita juga yang mengulang kehancuran
Bangsa masing-masing

Diantara matahari dan matahati
ada api yang selalu mengintip
gerak bahasa hasratmu
ia sembunyi dibalik hamparan planet ini
dan kini, ia bergerak menari
bersama tarian api dalam tubuhmu
dimana matahati sembunyi?
sedangkan matahari tetap tersenyum
menemani harimu~

Antara debu dan merdeka

Debu..
ia bebas
bagaikan serombongan anak bermain
berlarian bersama angin
dari kabut asap yang tak kompak
akibat kebakaran hutan
sampah batu bara yang beterbangan
juga cucu wedus gembel yang muntah
dari perut bumi
dan, cicit termungil dari polusi udara

Debu adalah..
sampah udara yang kita ciptakan sendiri
serta racun yang meracuni tubuh
secara perlahan-lahan
Limbah dari pabrik-pabrik
dari kendaraan yang kita tumpangi
awalnya merupakan kebutuhan
selanjutnya hanya pakaian gengsi

Bung,
apakah kita sudah merdeka?
atau.. akan kembali jadi debu?

PENGHUNI ZAMAN

Kita belum beranjak dari sini
Planet bumi yang mengundang
bermacam tarian ambisi
Imajinasi, ilusi, serta halusinasi
catatan demi catatan
masih tersimpan di candi-candi
juga pada buku-buku usang
bekas harapan yang terbuang
tentang keburukan perilaku, atau
tentang pejuang kebenaran, dan atau
tentang pencerahan kesadaran

Disepertiga malam,
masih terdengar gema
sisa hirukpikuk dunia
yang sembunyi
disebalik bayang hasrat duniawi
tahta, harta, dan wanita
ialah candu yang memabukkan
yang sulit terlepas dari jiwa
jiwa yang terikat hasrat duniawi
tanpa jeda
tanpa basa-basi
tanpa permisi
hingga pada akhirnya,
menjadi nisbi…

Padahal perjalanan ini masih panjang
berapa bangsa saling menghancurkan
meleburkan jiwa-jiwa ketungku dendam
itulah cikal bakal keserakahan
yang memilukan
sekaligus memalukan
karena kita bukanlah hewan

Disepertiga malam,
masih terdengar gema
sisa hirukpikuk dunia
kita belum beranjak dari sini
Planet bumi yang mengundang
bermacam tarian ambisi
imajinasi,
ilusi,
serta halusinasi
seperti apakah penghuni zaman nanti?
barangkali…
lebih dahsyat lagi~

MENGENAL TITIK

dan ketika mata ini mengatup
maka tampaklah segala yang tak nampak
begitu jelas menyusuri pori-pori hati

KAMU masih mencintai kami bukan ?
tanpaMU…
kami hanyalah mata yang terkatup
tertutup
gelap
dan sia sia

satu ketika,
saat KAMU beri kami cahaya
maka kami mengenal TITIK~

HELAI RASA

kutelan juga racun yang kamu suguhkan
racun cinta bikin mabuk kepayang
kepalang..
kutelan
sebagai asupan
gizi yang kamu ceritakan
dihadapan rembulan

masih kuingat,
ketika kujilati tiap helai rasa
yang kamu berikan
saat kamu robek isi dadaku
dengan pedang kemunafikan
tak pantas sehidup semati
harakiri lebih berarti
itu ucapku…dalam hati

kutelan saja segala racun
yang kamu berikan
kutelan semua sampai kenyang
kemudian,
kumuntahkan dihadapan rembulan
cahayaNya menjilati tepian hati
bagai batu kristal berwarna-warni
yang turun dari langitMu
melumuri mahkotaku

Ini hanya bagian dari mimpi..?

kutelan segaris ukiran ulah rupa dunia
dari masa ke masa
sebait nama tak ubahnya lentera sepi
yang mengingatkan kala sepi menerkam
kutelan juga dalam cengkeraman malam
saat rembulan diam-diam menghilang
kedalam tenggorokan.

AKU TERPANA

Saat hujan kemarin
kudengar.. rumput bernyanyi
di halaman yang tersisa
aku terpana..
betapa mahal harga kejujuran
diatas kesombongan jiwa-jiwa
yang merugi sebab keserakahan sendiri

ada takaran disana
bukan dimata manusia
dengan segala ocehan edannya
ada takaran disana
bukan karena semesta diam
lalu dianggap buta

aku terpana..
diantara :
berjuta materi yang terbuang percuma
berjuta deru bising lalu lalang kendaraan
berjuta debu dan asap merasuk pernafasan
berjuta dosa yang tak mampu terelakkan
sisanya, tetap tumbuh apa adanya

kesadaran..
lebih dari yang terbayangkan
menghiasi hari disetiap perjalanan
saat hujan kemarin,
rumput tetap bernyanyi
diatas halaman yang tersisa
aku terpana…

HENING

telah kukumpulkan ranting
didapur
kepala mereka terbentur terbanting
dapatkan daun penuh lumpur

ranting ranting tajam
daun kerontang
mamam…. mamam
anak terpanggang

lihatlah,
nasib ranting dan daun
aaah….
butuh waktu bertahun

telah kukumpulkan ranting
didapur…
yang hening.

LANGIT HITAM

matahari hampir melumatkan separuh bumi
betapa bingungnya bocah kecil terhadap kebenaran
aku terhentak..
ketika tangan mungil menyentuh pipi
tak ada gunanya menangis
lantaran debu telah mengotori jiwa mereka
kebiadaban terasuh untuk merajalela
dibalik topeng tak bernama
ayah menangis..
bocah kecil menggigit jemari
cemas merengkuh sorot matanya

ketika matahari terseok-seok menyinari bumi
suara-suara manusia itu
sejak siang tadi terikat aturan-aturan kuno
tentang kebodohan dalam belenggu keserakahan
orangtua yang itu biadab sekali
orangtua yang lainnya terlalu jujur
yang biadab tetap menari
yang jujur malah tersungkur
dan yang Luhur mendengkur

Langit hitam,
hatiku gemetar..
TUHAN,
murkalah Kamu
barang sebentar…..

KEJUJURAN MELOTOT

Dibalik kejahatan serta kebajikan
ada pertemuan babak baru
Kita semua akan berada disana
dunia Pilihan
dalam harap
atau, tanpa harap..

Di planet bumi ini,
Kita bukan manusia kardus
yang dijual kiloan oleh para pemulung
Kita juga bukan manusia kerdil
yang sembunyi dibalik jual-beli bedil
Kita bukan pula manusia jejadian
yang datang dari planet bulan
lalu ingin menguasai bumi
diantara setiap perang
yang saling menghancurkan….?

Alam semesta senantiasa menunjukkan
tarian kebajikan
saat ini, Kita masih disebut manusia
yang berada didunia Pilihan
dibalik kejahatan serta kebajikan
pada pertemuan babak baru
tanpa harap…
atau, dalam harap ?

Kejujuran pun menjawab,
seperti burung hantu melotot
seperti otot-otot kita yang telah lelah
dan mulai bosan
bos-bosan… jongos-jongosan
Kemerdekaan dalam keniscayaan
Aah… dunia ini memang nisbi~