Pesan dari Langit

Telah banyak yang datang ke langit
Ada yang bertemu dengan Dewa Zeus
Ada yang bertemu dengan Para Dewi di Khayangan
yang bertemu dengan Para LeluhurNya
bertemu dengan para Siluman, dan Iblis
Ada juga yang bertemu dengan Alien
Sensasi perjalanan pun berbeda
Lalu kembali membawa hasil masing-masing
untuk dibagikan kepada kelompok masing-masing
pada zamanNya

Catatan itu telah berulang kali dicetak
Semua memiliki aturan, tetapi..
mengapa terjadi benturan
sehingga ada kesan tidak beraturan
hingga datanglah bencana
yang dianggap sebagai teguran
benarkah seperti itu?
siapa yang menegurnya?
alam semestakah? atau..
hanya sebatas pemikiran manusianya saja

Satu hal yang pasti
Hidup merupakan serentetan masalah
demi masalah, serta perpisahan
demi perpisahan
Ingat dan waspada
kursi-kursi alam mulai goyang
angin surga bingung tidak tentu arah
hujan masih menanti keputusan
Zeus melecutkan petirnya
bayangan Hera saling berebut mahkota
dengan Medusa

udah aah, aku lelah menulisnya
Lalu bagaimana nasib planet bumi, boskuh?

Signal menghilang..
pembicaraan terputus

“hallooo… boss… hallooow”
…wow dia diam lagi…

“Jangan marah ya Boss”~

Iklan

PERJALANAN

Berkelok ke kanan dan kiri

Adalah jalan panjang sang jiwa

Merenda suka dan duka

Menuju tikungan waktu

Pada Peradaban yang berulang

Pada panggung yang sama

Pada bahasa yang sama

Pada jalan-jalan yang sama

Tetapi jalan pulang berbeda-beda

Kita lupa menghargai seragam

Sebagai tanda persatuan dengan Tuhan

Seperti sebuah pernikahan

Yang Maharnya jagad semesta raya

Ooo, manusia…

Kita bukan dewa, dewa pun bukan kita

Api melahap rumah kita

Air pun demikian dengan mudahnya

Kita bukan hewan, hewan pun bukan kita

Tetapi bersama mencetak sejarah

Sejarah…

yang menolak untuk tidak dicatat~

: bisik ilalang~

tengah malam kembali
menebar hening
dihamparan dingin, 
yang memecah senyap
seperti mimpi yang tergerus
dalam…
dikedalaman sunyi

sepi selalu ingin memutar waktu
tengoklah..

bunga-bunga pohon randu
beterbangan dihempas angin
kerinduan untuk tumbuh kembali
di bukit sana
indahnya ia menari
diantara pekat kehangatan
malam
menyimpulkan seluruh hening

padamu sepi,
sampaikan kelakar sunyi ini
kepada embun pagi
: bisik ilalang~

AROMA KOPI

perjalanan nan panjang
dalam rentang waktu tak terbatas
meski senantiasa ada jeda disana
pada lukisan kesetiaan jiwa
serta bias keabadian sukma

dimana tempat berlabuh
yang sungguh, tanpa…
“huh…”
helaan nafas dedaunan, adalah
warna langit kita yang usang

sensasi-sensasi produk ambisi
sering mengilhami sisi beku hati kita
“hmm….”
nyaris lenyap dalam sekejap
tinggal aroma kopi yang tak pergi~

SEPTEMBER

awal musim hujan yang akan datang

siapa yang memilihnya

basahi bumi

hidupkan tetumbuhan

diantara rerumputan

embun pagi ucapkan “Selamat datang”

 

hujan

selalu jatuh ke bumi

tetapi, bumi yang di sebelah mana

masihkah air yang akan turun

atau, hujan uang

bagi semua yang butuh

pada tiap perjalanan

 

September bulan kesembilan

seperti sembilan para wali

dari cerita sejarah rakyat di negeri ini

apa masih jadi panutan

beliau-beliau yang terparut zaman

adalah gambaran kita diperjalanan yang sekarang

 

nanti atau saat ini

buahnya sama

lezatnya hanya lewat ditenggorokan

apa yang bakal tersisa

dari musim hujan mendatang

bukan karena musim selalu bergulir

tapi  manusia banyak yang tergelincir~

BATAS

dinding pembatas itu

adanya gravitasi

pada tiap dimensi

kita semua akan kembali

kepada inti

 

dimana letak intisari bumi

dimana letak intisari manusiawi

dimana letak intisari yang kita cari

bukan tentang sekelumit cinta lagi

bukan lantaran iri yang jadikan dengki

bukan pula karena harus mati

 

dinding pembatas itu

rekayasa diri selimuti bumi

dipenuhi ketakutan-ketakutan

yang menutup topeng diri

kita semua akan segera kembali

ke  tempat inti buah cipta sendiri

dan,

itu pasti~

 

TIGA

mari heningkan cipta sejenak

meski diantara cermin yang telah retak

meski bumi sering menggertak

parfum tak hilangkan bau ketiak

 

kata-kata tergeletak, lalu bergerak membias

melukis wajah pendoa dan pendosa

doa sungguh tak pantas

sangat tak pantas

bagi para penghujat

 

mari heningkan cipta sejenak

sebelum bumi berhenti bergerak~

 

 

 

DUA

kita tahu

tapi mengapa pura-pura tidak tahu

atas tanda yang makin mendekat

manusia jadi mirip

se-karat

menggeliat dalam lingkaran ambisi

saling mengelupas  kepompong diri

merubuhkan tiang-tiang bumi

 

kita tahu

sayangnya, pura-pura tidak tahu

patah tumbuh

hilang..

berganti~

DI BUKIT ASTRAL (perjalanan jiwa ke 8)

sukma yang tersisa
dari tahun menahun
tanpa hitungan

kecepatan cahaya
dalam bongkah kiprah
se-arah
atas sebuah perjanjian
tergenapkan
diatas ketidaktahuan

lapisan es bagai hamparan kristal
pada tiap jengkal langkah kaki
diatas jejak tapak peradaban
diantara sengatan labirin waktu
bukit astral menjauh
garis-garis cahaya membisu

semua biru
segalanya baru
kecuali debu~

PADA TITIK TANYA

mengapa dedaunan menghijau
ketika musim hujan
apakah Kamu mewarnainya
mengapa
jiwa diantara kami beda
apakah Kamu menginginkannya
mengapa
diantara kami ada yang dapat membaca
isi hati dan pikiran hampir setiap orang
sedangkan orang lain tidak
mengapa
perjalanan kami semua berbeda
meski dalam konsep yang sama
hanya tentang duka dan suka

Guru
entah sejak kapan Kamu
memulainya
apakah dulu aku juga pernah ada?

pada kehidupan dimasa lampau
Dimana?

Guru
siapakah Kamu Sesungguhnya..
sehingga aku merasa kosong
tak memiliki apapun
namun Kamu senantiasa

memberi apa pun~
13528731_1035467699894012_8965065240471861754_n

SEMBUNYI DI TEMPAT TERANG

12990856_225242771172934_4679853076945075168_n

Jiwa
Bukan inginku kembali ke mayapada
Ketika terik matahari menyengat
Kulihat Orang-orang se-karat

adalah JIWA
yang mencari kesejatianNya
yang kadang terhimpit oleh nista di bejana
durjana

adalah jiwa
yang menangis dipersembunyianNya
yang terbakar oleh hawa dalam dada
angkara

adalah Jiwa
Demi kertas penyambung nyawa
Lalu kau sia-siakan raga
Yang sedang gelap mata

Jiwa
Kau memang tak punya mata
Tapi masih ada sekeping hati
Yang dapat melindap ambisi

Jiwa
Mengapa kau sembunyi
Di tempat uji nyali
atau.. tempat yang hakiki?

~Hihihi.. masih lucu sekali dunia ini~

DIANTARA NOKTAH CINTA

Kau putuskan benang merah dalam sebuah noktah
Menyisakan lubang-lubang hitam tak beraturan
Dan itu membunuh seluruh keyakinanku

Ooo,, jika malam ini aku harus bertanya
Kemanakah dulu rangkaian asmarandana yang memanggilku ?
Kemanakah dawai asmara yang merajutkan ikatan mimpi ?
Kemanakan hembusan nafasmu
ketika aku datang dari arah angin nan jauh ?
Dan kenapa kau sisakan aku dalam koma perjalanan
Hingga keyakinan ini berahir didalam noktah hitam

Ooo…….. jika esok aku masih harus bertanya
di ruang mana KAMU titipkan seUtas CINTA
agar Kami tak lagi papa~

 tipto0002