Antara debu dan merdeka

Debu..
ia bebas
bagaikan serombongan anak bermain
berlarian bersama angin
dari kabut asap yang tak kompak
akibat kebakaran hutan
sampah batu bara yang beterbangan
juga cucu wedus gembel yang muntah
dari perut bumi
dan, cicit termungil dari polusi udara

Debu adalah..
sampah udara yang kita ciptakan sendiri
serta racun yang meracuni tubuh
secara perlahan-lahan
Limbah dari pabrik-pabrik
dari kendaraan yang kita tumpangi
awalnya merupakan kebutuhan
selanjutnya hanya pakaian gengsi

Bung,
apakah kita sudah merdeka?
atau.. akan kembali jadi debu?

Iklan

PENGHUNI ZAMAN

Kita belum beranjak dari sini
Planet bumi yang mengundang
bermacam tarian ambisi
Imajinasi, ilusi, serta halusinasi
catatan demi catatan
masih tersimpan di candi-candi
juga pada buku-buku usang
bekas harapan yang terbuang
tentang keburukan perilaku, atau
tentang pejuang kebenaran, dan atau
tentang pencerahan kesadaran

Disepertiga malam,
masih terdengar gema
sisa hirukpikuk dunia
yang sembunyi
disebalik bayang hasrat duniawi
tahta, harta, dan wanita
ialah candu yang memabukkan
yang sulit terlepas dari jiwa
jiwa yang terikat hasrat duniawi
tanpa jeda
tanpa basa-basi
tanpa permisi
hingga pada akhirnya,
menjadi nisbi…

Padahal perjalanan ini masih panjang
berapa bangsa saling menghancurkan
meleburkan jiwa-jiwa ketungku dendam
itulah cikal bakal keserakahan
yang memilukan
sekaligus memalukan
karena kita bukanlah hewan

Disepertiga malam,
masih terdengar gema
sisa hirukpikuk dunia
kita belum beranjak dari sini
Planet bumi yang mengundang
bermacam tarian ambisi
imajinasi,
ilusi,
serta halusinasi
seperti apakah penghuni zaman nanti?
barangkali…
lebih dahsyat lagi~

MENGENAL TITIK

dan ketika mata ini mengatup
maka tampaklah segala yang tak nampak
begitu jelas menyusuri pori-pori hati

KAMU masih mencintai kami bukan ?
tanpaMU…
kami hanyalah mata yang terkatup
tertutup
gelap
dan sia sia

satu ketika,
saat KAMU beri kami cahaya
maka kami mengenal TITIK~

HELAI RASA

kutelan juga racun yang kamu suguhkan
racun cinta bikin mabuk kepayang
kepalang..
kutelan
sebagai asupan
gizi yang kamu ceritakan
dihadapan rembulan

masih kuingat,
ketika kujilati tiap helai rasa
yang kamu berikan
saat kamu robek isi dadaku
dengan pedang kemunafikan
tak pantas sehidup semati
harakiri lebih berarti
itu ucapku…dalam hati

kutelan saja segala racun
yang kamu berikan
kutelan semua sampai kenyang
kemudian,
kumuntahkan dihadapan rembulan
cahayaNya menjilati tepian hati
bagai batu kristal berwarna-warni
yang turun dari langitMu
melumuri mahkotaku

Ini hanya bagian dari mimpi..?

kutelan segaris ukiran ulah rupa dunia
dari masa ke masa
sebait nama tak ubahnya lentera sepi
yang mengingatkan kala sepi menerkam
kutelan juga dalam cengkeraman malam
saat rembulan diam-diam menghilang
kedalam tenggorokan.

AKU TERPANA

Saat hujan kemarin
kudengar.. rumput bernyanyi
di halaman yang tersisa
aku terpana..
betapa mahal harga kejujuran
diatas kesombongan jiwa-jiwa
yang merugi sebab keserakahan sendiri

ada takaran disana
bukan dimata manusia
dengan segala ocehan edannya
ada takaran disana
bukan karena semesta diam
lalu dianggap buta

aku terpana..
diantara :
berjuta materi yang terbuang percuma
berjuta deru bising lalu lalang kendaraan
berjuta debu dan asap merasuk pernafasan
berjuta dosa yang tak mampu terelakkan
sisanya, tetap tumbuh apa adanya

kesadaran..
lebih dari yang terbayangkan
menghiasi hari disetiap perjalanan
saat hujan kemarin,
rumput tetap bernyanyi
diatas halaman yang tersisa
aku terpana…

HENING

telah kukumpulkan ranting
didapur
kepala mereka terbentur terbanting
dapatkan daun penuh lumpur

ranting ranting tajam
daun kerontang
mamam…. mamam
anak terpanggang

lihatlah,
nasib ranting dan daun
aaah….
butuh waktu bertahun

telah kukumpulkan ranting
didapur…
yang hening.

LANGIT HITAM

matahari hampir melumatkan separuh bumi
betapa bingungnya bocah kecil terhadap kebenaran
aku terhentak..
ketika tangan mungil menyentuh pipi
tak ada gunanya menangis
lantaran debu telah mengotori jiwa mereka
kebiadaban terasuh untuk merajalela
dibalik topeng tak bernama
ayah menangis..
bocah kecil menggigit jemari
cemas merengkuh sorot matanya

ketika matahari terseok-seok menyinari bumi
suara-suara manusia itu
sejak siang tadi terikat aturan-aturan kuno
tentang kebodohan dalam belenggu keserakahan
orangtua yang itu biadab sekali
orangtua yang lainnya terlalu jujur
yang biadab tetap menari
yang jujur malah tersungkur
dan yang Luhur mendengkur

Langit hitam,
hatiku gemetar..
TUHAN,
murkalah Kamu
barang sebentar…..

KEJUJURAN MELOTOT

Dibalik kejahatan serta kebajikan
ada pertemuan babak baru
Kita semua akan berada disana
dunia Pilihan
dalam harap
atau, tanpa harap..

Di planet bumi ini,
Kita bukan manusia kardus
yang dijual kiloan oleh para pemulung
Kita juga bukan manusia kerdil
yang sembunyi dibalik jual-beli bedil
Kita bukan pula manusia jejadian
yang datang dari planet bulan
lalu ingin menguasai bumi
diantara setiap perang
yang saling menghancurkan….?

Alam semesta senantiasa menunjukkan
tarian kebajikan
saat ini, Kita masih disebut manusia
yang berada didunia Pilihan
dibalik kejahatan serta kebajikan
pada pertemuan babak baru
tanpa harap…
atau, dalam harap ?

Kejujuran pun menjawab,
seperti burung hantu melotot
seperti otot-otot kita yang telah lelah
dan mulai bosan
bos-bosan… jongos-jongosan
Kemerdekaan dalam keniscayaan
Aah… dunia ini memang nisbi~

PENAKLUKAN CAHAYA

Mengapa semesta goreskan cerita ini..
Takdirmu dan takdirku
adalah manusia-manusia cahaya
yang lahir dari rahim Sang Cinta
dan banyak hal yang kita kejar
atas ketidaktahuan,
hingga tampak dungu satu hari
pada ribuan hari yang lain

Kita diberi sepasang tangan syafaat
dibalik kesombongan-kesombongan
yang tidak manfaat
menutupi cahaya wahyu
dalam bingkai-bingkai kesesatan
hingga tiba batas kekuasaan itu hilang

Masihkah bahagia menjadi tujuan?
dalam lelahnya perjalanan peradaban
diantara kebatilan dan kebenaran
disela hasrat syahwat duniawi
pada pelukan Dzat Pemilik raga hidup kita
masih adakah tempat…
bagi hari yang penuh madah

Pada malam yang tertinggal
dari ketenangan yang sakral
cahaya wahyu merupakan anugerah
bagi jiwa-jiwa yang pasrah
Kita adalah pemegang amanah
dan Tuhan meletakkan dibelakang usia
sejak ditiupkan mantra kehidupan
bagi kita semua

Meski berkali-kali kematian itu datang dan pergi
namun,.. cahaya wahyu tetap abadi
senantiasa terlahir dari rahim Sang Cinta
membuat kita tertahan disini
pada kenangan demi kenangan
yang tersusun acak diruang terdalam
ketenangan yang sakral
menuju rongga kejujuran~

GENERASI ABU-ABU

Bukan hitam
bukan pula putih
bisa jadi kelebihan hitam
atau putih

Bukan instans
bukan pula rekayasa
bisa jadi abu-abu
dikuasai hitam
maka jadilah hitam

Hitam itu gelap
Hitam itu tak terlihat
Hitam itu tak teraba
tak terasa…
Hitam itu,
BUTA

Hitam mencari dan mencuri cahaya
yang ditemuinya abu-abu
samar-samar
agak keputih-putihan
seperti asap yang mengelilingi
seluruh pandangannya

Berharap datangnya sang cahaya
putih yang mampu melebur hitam
sama saja jadinya, tetap abu-abu
siapa pemiliknya?
apakah Generasi abu-abu…

yang terikat diantara hitam dan putih~

dari kasus ke kakus

bahwa

diri ini terikat diluar kesadaran

dalam lingkaran kontrol

yang hanya keluar masuk

dari emosi

ke ruang emosi berikutnya

siapakah yang mengontrol diri kita

sehingga masuk bersama-sama

ke dalam lubang yang sama

 

saling menghancurkan

dalam keadaan sadar

perlahan tetapi pasti

kesadaran kita yang melewati

ambang batas ketidaksadaran

itu berhasil…

membungkam ketololan

yang sembunyi,

dibalik keserakahan

 

masihkah kita berBangsa

sebagai kelompok manusia

atau hewan… yang berwujud manusia

yang berkeliaran di planet Bumi

dari kasus,

ke kakus~

Mikir!

DOA

doa..

adalah nyanyian sendu

serta haru nan membiru

doa membungkus serat-serat jiwa

para pendoa dan juga para pendosa

doa..

bergelut di angkasa

antara hitam dan putih

pekatnya asa

doa memecah keduanya

mencari tempat di surga

atau, neraka~

CINTA

Tahukah kau…

Kelopak warna CintaNYA

diperjalanan hari, adalah..

serentetan masalah demi masalah

yang justru bangkitkan gairah

membara

lewati mimpi-mimpi semu

pada tebaran pesona ribuan  kata

menghias di angkasa

 

Biarlah air tetap mengalir

sungai tak akan hilang

seperti kemarin

waktu kita memancing ikan

atau, membuang hajat

aah… ini hanya sebentar

kita sedang menggenapi hari

 

Telah berulang kali kupelintir rasa

bagi kebersamaan kita

yang mengendap dipuing-puing abad

lalu satu persatu menjadi babad

pada cerita sejarah

yang berbeda~

BUKAN MIMPI

sepi
hening
senyap
sunyi
alam terdiam
suara serangga malam terkunci
bungkam
membisu
tiada suara lain,
selain nyanyian nafasMU
yang KAMU titip di jantungku

malam itu….
dinding kamarku pun merona
merah jambu
seperti cinta yang hadir
dari jasad ibu..
saat aku lahir

hingga pagi kutatap
awan berarak menghias kesenyapan
yang masih kurasakan
sampai datang malam
perlahan…
sepi menghilang
dalam rintik hujan
yang menghantar nada nada indah
dari LangitMU

terimakasih sunyi
aku masih disini,
bukan mimpi.