NYANYIAN EMBUN PAGI

indah rasanya
ketika jemariku menari diatas rumput hijau
menyisiri tetes embun pagi
sampai kini
embun masih setia temani pagi
meski rumput rumputku telah pergi
embun tetap menanti pagi
untuk basahi dedaunan
atau pelepas dahaga
sang penunggu rimba
disana
hanya tersisa daun daun yang berjatuhan
atau daun yang mulai menguning
menjelang kering
siapakah pembawa derita ini?
siapa pula manusia yang telah tega
menikam ulu hati manusia lainnya
padahal mereka saudara kita
padahal tanpa mereka
kita bukanlah apa apa
cukup puaskah kita
hanya jadi saksi?
cukup puaskah kita kehilangan rumput
yang selalu menjemput embun pagi

aku masih disini
menyisiri tetes embun pagi
mendalami sebuah arti ketulusan
sang embun pada pagi
aku hanyalah ilalang
yang nyaris bakal hilang
dari peradaban.

HARAPAN YANG TERBUNGKUS

Sob,
kelelahanmu mencabik-cabik mimpi
dalam kerinduan nan panjang
seolah tiada tepi

kamu hadir didepan mataku
menggandeng putra kehidupan
dengan tatapan penuh kehausan
dahaga pada setetes kasih sayang

tatapan mata putramu itu, Sob…
mencari setitik cahaya
hingga kehilangan semangat hidupnya
karena kamu,
bawa kembali keujung harapan
pada bayang yang menghilang dikegelapan…. ?

Sob,
bila dia butuhkan sosok seorang ibu
dan kamu tak mampu memberinya ibu baru
jangan benamkan jiwanya…
api semangat memudar..
apa yang terjadi
nanti..?
Sob,
kelelahanmu
bukanlah bagiannya
jangan berikan ruang kerinduan itu
hidup ini ada
kehdupan lain dalam dirinya
nyata Sob…

rasanya,
aku ingin jadi ibu dari anak itu
meski hanya satu hari saja
mencumbu kerinduannya
yang sudah jadi mimpi panjang
dimatanya….

andai aku dapat berbagi ?