NYANYIAN EMBUN PAGI

indah rasanya
ketika jemariku menari diatas rumput hijau
menyisiri tetes embun pagi
sampai kini
embun masih setia temani pagi
meski rumput rumputku telah pergi
embun tetap menanti pagi
untuk basahi dedaunan
atau pelepas dahaga
sang penunggu rimba
disana
hanya tersisa daun daun yang berjatuhan
atau daun yang mulai menguning
menjelang kering
siapakah pembawa derita ini?
siapa pula manusia yang telah tega
menikam ulu hati manusia lainnya
padahal mereka saudara kita
padahal tanpa mereka
kita bukanlah apa apa
cukup puaskah kita
hanya jadi saksi?
cukup puaskah kita kehilangan rumput
yang selalu menjemput embun pagi

aku masih disini
menyisiri tetes embun pagi
mendalami sebuah arti ketulusan
sang embun pada pagi
aku hanyalah ilalang
yang nyaris bakal hilang
dari peradaban.