SEPUCUK SEPI DIATAS KRISTAL SUNYI

ada hawa getarkan jiwa

bangkitkan sukma

dilorong candi tua

milik karsa

ah… benang merah itu

telah lapuk

dan terputus

sebelum tiba

dipenghujung asa

rasanya kadaluarsa

menguntai kata

seperti anak-anak teka?

berapa jumlah kata tertuliskan

diatas teriakan berbusa pembacanya

dan segelintir orang penikmatnya

akhirnya kata-kata terwujud

hanya sebagai penyambung rasa

bahwa kita masih ada disini

bersama….

SENJA MURAM

dihamparan bukit ketidak-abadian

sejuta angan melayang

seperti bunga ilalang

tertiup angin kencang

adakah sesal ikut terhempas?

telah dilahirkan di negeri ini

tanpa tali ari-ari

dan sang penguasa

tak peduli pada durjana

yang merengkuh sudut-sudut kota

tak ada senyum

canda tawa

senja muram

terbungkus dendam.

HUH….!

kurajut rindu

dalam sejuta doa

bibirku kelu

pecah-pecah

tersayat sembilu inginmu

huh…!

hati ngilu

tak mampu lepaskan duka

menjerat kaum tak punya

dan pengangguran yang kurang kerjaan

hanya cari korban

huh…!

salahkah Tuhan?

hadirkan mereka ditengah-tengah gejolak duniawi

yang makin dipenuhi oleh keserakahan?

huh..!

dimanakah manusia berjaya yang sadar

bahwa harta yang sedang dinikmatinya

bagian dari cucuran keringat

rakyat yang setia membingkai

upeti jadi bulan-bulanan

mengherankan

siapa jelata sesungguhnya?

huh…!

hati ngilu

hanya mampu merajut rindu

dalam sejuta doa.

NOSTALGIA SARIAWAN

“masih seperti kemarin

hujan datang hanya sebentar..”

kelakar bunga yang sedang mekar

mulai rapuh kelopaknya

dan jatuh pada esoknya

mengapa harus menanti hari

berganti hari lagi

sedangkan,

kupu-kupu masih jadi kepompong

kamu bilang bahwa:

“kepompong itu indah kala anak kupu-kupu muncul..”

kamu juga tahu dimana tempat menemukan

anak kupu-kupu yang sayapnya nanti bakal cantik

aku hanya tersenyum

dan itu sudah cukup bagi kedamaian hatimu

“cukup..?”

“ya…”

karena senyumku bagai air

yang mampu memadamkan api

“berarti senyumku mampu memadamkan

musibah kebakaran..?”

kamu tertawa geli…

kamu juga pernah bilang

ketika gerimis datang

dan kita berteduh di warung pinggir jalan

aku kedinginan lalu kita berpelukan

kamu bilang: “sayang sama aku”

spontan kita berciuman…

“adduh…katanya sayang,

kok bibirku kamu gigit…?

sakit tau !”

esoknya bibirku sariawan.

SENANDUNG PAGI

daun pepohonan saling berbisik

kilau sang embun hiasi rerumputan

sunyi menghantar

hati terdampar

dipantai rindu

kemanakah perginya

alunan kicau burung

yang biasa saling sapa

Kamukah.. ?

yang berdiri menatapku

diujung hari

pada tepian mimpi

bawa aku kembali

dalam dekapanmu

biaskan warna aroma pagi

biar hangatnya

tercium kembali…

DENDANG SANG REMBULAN

Sering rasanya ingin mengganti

lembaran halaman buku harianku

malam merayap

kamu masih menungguku

sendu

menatap dalam gelap

aku malu

tersipu

pada harapmu

keping keping hati tersayat

ditengah coretan kata kata kusam

tentang hari demi hari

kuresapi

sejalan dengan matahari.

Jangan tutupi dirimu lagi

di puncak bukit itu

berselimut awan kelabu

aku tak dapat melihat tubuhmu

menatap matamu..

meraba nuranimu

mendekap bayangmu

dan bersanding didepanmu

kupanggil mega mega

untuk antar ke pelaminan

diatas bias basah rerumputan

sambut rindu kata hatimu

walau aku tak tau siapa dirimu.

kusampaikan seutas damba

pada angin

yang senantiasa pergi…

agar cahayaku

terlelap dikedalaman relung hatimu.

WANITA-WANITAMU

kamu boleh sepelekan

wanita-wanitamu

tetapi ia juga masih memiliki

hak pribadi

prinsip dan tujuan hidup

kamulah pemimpinnya

kamulah nahkodanya

ajari dia

tentang kejujuran

tentang kebenaran

tentang kesetiaan

tentang ketulusan

ajari dia

tentang pengabdian

agar tetap berada

di jalan yang Benar

dan Lurus…

ajari dia

tentang cinta

yang kamu punya.

CINTA

tak ada kata terindah

selain cinta

adakah kita mau tahu

cinta butuh pengorbanan

bila orang yang kita cintai

tak memiliki cinta

bagai sebuah mistery

tak mampu terungkap

cinta ‘semu’

tak pernah abadi

singgah dihati



Dan apabila

dua hati mampu saling mencinta

bagai sahabat

saling mengikat rasa

menyatu dalam jiwa

merenda cahaya sukma

tak ada yang dapat memisahkan

kecuali kematian

aah,

seandai…