NOSTALGIA SARIAWAN

“masih seperti kemarin

hujan datang hanya sebentar..”

kelakar bunga yang sedang mekar

mulai rapuh kelopaknya

dan jatuh pada esoknya

mengapa harus menanti hari

berganti hari lagi

sedangkan,

kupu-kupu masih jadi kepompong

kamu bilang bahwa:

“kepompong itu indah kala anak kupu-kupu muncul..”

kamu juga tahu dimana tempat menemukan

anak kupu-kupu yang sayapnya nanti bakal cantik

aku hanya tersenyum

dan itu sudah cukup bagi kedamaian hatimu

“cukup..?”

“ya…”

karena senyumku bagai air

yang mampu memadamkan api

“berarti senyumku mampu memadamkan

musibah kebakaran..?”

kamu tertawa geli…

kamu juga pernah bilang

ketika gerimis datang

dan kita berteduh di warung pinggir jalan

aku kedinginan lalu kita berpelukan

kamu bilang: “sayang sama aku”

spontan kita berciuman…

“adduh…katanya sayang,

kok bibirku kamu gigit…?

sakit tau !”

esoknya bibirku sariawan.