DUNIAKU..DUNIAMU

suaramu indah

bangkitkan gairah

garis-garis lukisan tanganmu menawan

mengundang jutawan

otakmu cemerlang

tak terkalahkan sang petualang

dan bintang-bintang pun menari

ketika kamu tidur lalu mati..

AKU TAHU… KAMU CINTA

ditengah lelap tidurku

kamu datang

mengusap wajahku

membelai rambutku

meski tak menyentuh jasadku

kamu ucapkan “cinta”

aku terbangun

ingin memelukmu

tetapi kamu menghilang

..aku tahu…

kamu cinta

dalam derai airmata dihatimu

mengapa..?

biarkan luka semakin menganga

pedih dan perihnya hati

bagai senjata bagi jiwa

kamu yang datang

lalu menghilang

seperti bayang-bayang diri.

AKU.. YANG KAMU TAHU

aku memang bukan milikmu

aku juga bukan untuk dia

ditengah keramaian

aku lebih suka berselimut sepi

bermesraan dengan suara angin

ketika marah, ranting jadi patah

suara-suara hati manusia

yang penuh damba dan keluh kesah

merajut citra hiasi bingkai sejarah

aku memang bukan milikmu

aku juga bukan untuk dia

ditengah keramaian

aku lebih suka dialog sang jiwa

bercengkerama mencari makna

ketika perang, semangat jadi menyala

suara-suara hati manusia

sama

seperti sebuah perjalanan rasa

aku..

yang kamu tahu.

 

KAMU..?

ketika aku tersudut

ditengah kemelut

kamu menyambut

hilangkan rasa takut

ketika aku menangis

didera duka yang mengiris

kamu turut menangis

perlahan hilangkan semua desis

hingga duka semakin menipis

ketika aku kehilangan kamu

aku tak mampu

sungguh… aku tak tahu

mengapa aku tak mampu?

MENYULAM MATAHARI YANG KOYAK

malam

hening

bening tanpa suara

sunyi mencekam dalam derai seribu bulan

semilir kisahmu terbawa angin

jatuh kedalam dekap rindu

yang tak tahu malu

begitukah caraMU

mengingatkan hambaMU yang penuh nista

malam

sepi sekali

tanpa suara binatang

tanpa desir semilir angin

dan alampun ikut terdiam

bulan merah jambu

tebarkan cahayaMU

keseluruh dinding-dinding kaku

saksi bisu segala hasrat

tak terpuaskan dengan satu kalimat

satu kata nikmat.. walau sunyi mencekam

mematikan

denting detak jarum pada jam yang tetap berputar

dalam derai duapuluhempatjam malam seribu bulan

padamu bintang yang sembunyi ditirai malam

jangan menjauh .. tetaplah menari

hiasi malam bagi cucu-cucuku nanti

malam

hening

bening tanpa suara

lelaki tua itu terbatuk-batuk..

itulah suara pertama

menyadarkan kenikmatan malam bagi sinenek

“kalau kamu mau pulang, silakan lebih dulu

aku masih menyulam matahari

agar cucu kita tidak terbakar nanti”

kakekpun pulang dengan tenang

karena waktu telah memanggilnya..



DESAH ANGIN DI MERAPI

ketika purnama mengintip disudut merapi

kutiup seruling menutup senja

bukan aku tak menatap harapmu

ketika gembala kembali kegubuknya

telah kuberikan tanda-tanda itu

pada jauh hari sebelumnya

rerumputan masih hijau disana

ketika sesajianmu semakin mewangi

sang naga malah pergi dari sana

dan kini menggelinjang semua

bersama debu debu

yang mampir ke tiap sudut rumah-rumahmu

meski hanya sebentar saja

angin tak sempat iba…

aku turut berduka

karena aku tak punya apa-apa

selain doa,

bagi semua manusia.