DESAH ANGIN DI MERAPI

ketika purnama mengintip disudut merapi

kutiup seruling menutup senja

bukan aku tak menatap harapmu

ketika gembala kembali kegubuknya

telah kuberikan tanda-tanda itu

pada jauh hari sebelumnya

rerumputan masih hijau disana

ketika sesajianmu semakin mewangi

sang naga malah pergi dari sana

dan kini menggelinjang semua

bersama debu debu

yang mampir ke tiap sudut rumah-rumahmu

meski hanya sebentar saja

angin tak sempat iba…

aku turut berduka

karena aku tak punya apa-apa

selain doa,

bagi semua manusia.