DESAH ANGIN DI MERAPI

ketika purnama mengintip disudut merapi

kutiup seruling menutup senja

bukan aku tak menatap harapmu

ketika gembala kembali kegubuknya

telah kuberikan tanda-tanda itu

pada jauh hari sebelumnya

rerumputan masih hijau disana

ketika sesajianmu semakin mewangi

sang naga malah pergi dari sana

dan kini menggelinjang semua

bersama debu debu

yang mampir ke tiap sudut rumah-rumahmu

meski hanya sebentar saja

angin tak sempat iba…

aku turut berduka

karena aku tak punya apa-apa

selain doa,

bagi semua manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s