MASA

masa lalu bukan masa kini

masa lalu sejarah panjang dari tahun

ke tahun yang berlalu

lewati jalan jalan yang kini telah usang

dan menyebalkan

tak perlu disesalkan

diulang-ulang

ataupun,

dijadikan bahan tertawaan

karena sesungguhnya, kamu..

sedang mentertawakan seluruh masa

dari bagian masa lalumu

diantara kebodohanmu sendiri

bercerminlah… !

didepan kaca masa kini

apa yang kamu bawa?

kepala..

atau,

naga cerita?

masa tetap berjalan

dalam kekinian

menuju ke masa depan

adakah kamu disana

nanti…?

SESUDAHNYA

sesudah kamu telan nikmat

yang sekejap hilang dalam serpihan rasa

….lega

……….sendawa

mana terimakasihmu?

semesta diam saja

kamu lupa,

nyaris  diperbudak duniamu sendiri

padahal sesudahnya

sesudah kamu telan nikmat

yang sekejap hilang dalam serpihan rasa

….lega

……….sendawa

Kamu lupa,

pada alam abadi nanti

yang tertinggal..

jiwa jiwa suci dalam pelukan rasa belas kasih

bukan .. hati yang dikendalikan rasa nikmat duniawi

bukan pula sekarang hidup namun tak punya hati

sesudahnya,

sesudah kamu telan seluruh nikmat

kami titipkan manusia biasa

disetiap penghujung senja

tak kembali setelah bencana dinihari

disetiap dinihari dan,

sesudahnya…

tanda tanya yang kamu jawab sendiri.

KALAM

ENGKAU yang menuliskan

disudut tatapan mata kami

ENGKAU pula yang membacakan

ketepi hati kami

kami tak sendiri

namun terkadang tak tahu diri

bersama KALAM,

dia diam..

diam..

Kalam kalem

menepis kelam

lalu kamu campakkan…

siapa kamu ?

kami tak sendiri

namun terkadang tak tahu diri.

RAMBUTMU PALSU

jangan sentuh aku lagi

meski hanya ujung-ujung dari helai rambutku

seperti biasanya kamu membelai rambutku

disaat aku ragu

disaat aku gusar

pada konflik yang tersasar

disaat kamu kelakar

hanya untuk tagihan sebentar

aku tau….

wanita bagai boneka mainan

yang disentuh pabila sedang berkeinginan

dan selanjutnya disebut sebagai kewajiban

pada saat kamu kehilangan gairah

lalu kamu cari yang bergincu merah

hingga pernah kamu pulang

dengan wajah memar dan berdarah

ah, bermain-main dengan istri orangkah?

jangan sentuh aku lagi

meski hanya ujung-ujung dari helai rambutku

bukan aku sok suci

tapi aku jijik sekali

pada lelaki yang suka berganti-ganti wanita

hanya  untuk iseng belaka

kamu laksana binatang jadinya

menatapmu,

seperti melihat rambutmu yang palsu

hitam bernuansa semu

dan bau gincu.

BULAN KETIGABELAS

entah kenapa..

aku malas menikmati cahaya bulan

meski bulan sedang kinclong purnama

karena Purnama anak tetangga

yang telah jadi duda

hampir tiap hari menggoda

entah kenapa,

aku malas menikmati cahaya bulan

meski bulan sedang kinclong purnama

karena purnawirawan tak punya nama itu

kini telah tua

hampir tiap tiga hari berobat ke kota

entah kenapa…

aku malas lihat bulan

yang kinclong purnama

karena purnama mengundang birahi

agar sifulan senantiasa berseri

pelacur sibuk gonta-ganti tamu yang antri

entah kenapa,

rasanya malas menatap rembulan

padahal purnama mengundang sejuta kata

tentang cinta yang berbunga-bunga

tentang rindu berbingkai sendu

tentang sesal berbalut duka

tentang harap yang tiada habisnya

purnama…

setia bungkus suka dan duka

meski penantianmu jatuh

pada bulan ketigabelas

setelah desember.

SELAMAT DATANG SENJA

sekelompok kupu-kupu telah pergi

dari tamanku

adakah kamu tahu

betapa perihnya hati

kala petang telah berganti

senja…

kemana akan kamu titipkan usia

pabila raga tak saling sapa

dengan sang jiwa

 

sekelompok kupu-kupu telah pergi

dari tamanku

adakah kamu tahu

betapa melati telah jadi saksi bisu

kala terlepas sehelai hati dan secuil janji

dinihari…

kupelintir sejumput kata

untuk menghantarmu ke haribaan malam

dalam rindu yang dalam

 

selamat datang senja

dipenghujung masa.

WAJAH DIDALAM CERMIN

dusta sepanjang harimu

melayang terbang ke awan

lenyap ditelan gelap

padahal telah kamu ikuti jumlah hari

bahkan berbulan-bulan

hingga dari tahun ke tahun

berapa keping emas yang telah kamu buang

untuk mengejar ‘gengsi’ yang kamu dambakan

dusta sepanjang harimu

melayang terbang ke awan

lenyap ditelan gelap

malam…

kembali bernyanyi

dibalik selimut keraguan atas kesempatan

kesempatan pabila gurat telapak tangan

ada dalam genggaman sang gelandangan

dusta sepanjang harimu

hingga dari tahun ke tahun

berapa keping emas yang telah kamu buang

untuk mengejar  ‘gengsi’ yang kamu inginkan

rindu itu tak perlu

pabila kamu tetap membisu

terpaku dalam keangkuhanmu

begitulah takdirmu

begitulah…. seperti

wajah didalam cermin itu

tengoklah.

BATAS AROMA

malam..

mengangkang

diatas keangkuhan jiwa jiwa

yang telah mati rasa

dalam petualangan asmara

pelampiasan cinta atau napsu belaka?

tak pernah terpuaskan

dalam mimpi-mimpi basahmu

menjilati merahnya gincu ke gincu

hingga aroma jiwamu jadi bau


malam mengangkang

diatas  kesadaran jiwa jiwa

yang curahkan hasratnya pada sepertiga malam

dalam petualangan doa

pelampiasan cinta atau terhimpit dosa?

tak pernah terpuaskan

dalam mimpi-mimpi kedamaian

merajut sejumput ketenangan

hingga aroma jiwamu semerbak wewangian


salah dan benar

Tuhan tak pernah ingkar

meski di trotoar

daun daun segar

tetap berkelakar

masih tersisakah jiwa yang tegar

dan sadar.. ?


malam mengangkang

mengejar saling kejar

mengintip saling intip

menanti saling nanti

mencumbu saling cumbu

memangsa saling mangsa

gemuruh jiwa bergejolak

diantara pendosa dan pendoa

malam

tetap mengangkang.