LENDIR DO’AMU

Tuan,
waktu terus bergulir
sejumput do’amu telah jadi lendir
didalam cangkir
tuan,
apakah sungguh kamu..
yang dipertuankan oleh jaman?
perjalanan detik bisu
lenyapkan penasaranmu
tuan,
buat apa kamu hadir disini?
tahu ada aku disini
diantara mereka ada yang iri
mentertawai
dan benci
jiwa mereka mati
mereka akan mati dalam ulah sendiri
sedangkan kamu, lupa pada janji
kamu lupa pada janji-janji…
hingga telan ludah sendiri
tuan,
do’amu telah jadi lendir
didalam cangkir
jangan pandir
waktu terus bergulir
dan bergilir
tuan,
mengapa nyinyir?
pabila kamu terkilir
aku telah pergi ke hilir

Sambil nyengir.

CINTA KE EMPAT

Berbagi cinta memang layak
bagi kaum lelaki
namun jadi tak layak
pabila tak lagi mampu berbagi

dalam melewati berbagai masa
adakah keadilan didalamnya
cinta itu,
bukan lagi berupa napsu
atau malah jadi sebaliknya
merengkuh kepuasan jasmani
memiliki kebendaan duniawi
yang hanya berupa hiasan hidup belaka?

mengapa tak kau hiasi relung hatimu
dengan lukisan pengabdian kepasrahan
bukan keluhan demi keluhan
ketika kamu terjebak kesalahan
juga bukan sekedar meminta ampunan
tanpa usaha pertaubatan

tak ada waktu lagi untuk bersenang-senang
hingga lupa kapan untuk berhenti
dari kepuasan diri

DIA Yang Maha Memberi segalanya
bagi hidupmu… bagi langkahmu..
dawaikan sedalam aliran darahmu
bahwa setarikan nafasmu
adalah milikNYA
bahwa wanita dan anak keturunanmu
adalah pusaka dariNYA
bukan darimu kepadaNYA
tetapi DariNYA kepadamu
melebihi segalanya
yang kamu tahu….

CINTA KETIGA

Kamu minta cinta yang ketiga?
pada kamu sesama manusia
cinta ada batasnya
sedangkan padaNYA jua
cinta akan bermuara

mengapa tak kamu sisakan waktu
untuk bercinta denganNYA
dalam ketulusan hati yang jujur
bahwa kamu mencintaiNYA juga
seperti cintaNYA sepanjang waktu
untukmu
DIA Maha Pencinta segalanya.

GILA GAYA

hey kamu…
mengapa meniru gaya gaya
apakah kamu tak punya gaya
atau kehilangan gaya

sebelum mati gaya..
galilah lubang pusara rasa
kubur kan saja jiwamu didalamnya
disana tersimpan jutaan molekul gaya
pada tiap sudutnya ada cahaya
mengantarmu ke lorong gaya
yang tiada habis-habisnya
kecuali kamu tetap memilih gila gaya
meniru gaya lainnya yang telah ada
kamu bisa mati gaya.

BUKAN CERITA BASI

kubuka pagi dalam alun nada
nada indah dari Kitaro
aneka nuansa cerita dibalik rasa
semangat jiwa yang tak pernah tua
meski tubuh makin renta

Kitaro, kamu bercerita tentang apa?
apakah sekelumit kisah tentang cinta kita?
ah, itu basi…

aku hayati nada indahmu
bersama secangkir kopi dan sepotong roti
gemuruh nada mu
tebarkan gejolak melodi jiwa
bagai perjalanan ratusan masa yang lalu
ketika aku bersandar pada tegar dadamu
menatap burung-burung yang menari
dari ketinggian bukit salju
kamu hanya diam
aku tahu…
hatimu bersenandung
dan aku nikmati genggaman tanganmu
yang meremas lembut jemari tanganku
apa yang tersirat dalam hatimu.. Kitaro?

kita pernah saling memiliki
meski bukan pada masa kini
nuansa cinta yang bergelayut
dan hanyut di setiap helai rasa

ah… itu, tak pernah basi.

MENGAPA?

mengapa..?
aku tak tahu
apa salahku?
mengapa kamu diam?
mengapa?
aku kawini kamu pada gemulai angin senja
saat kemuning tebarkan aroma
kupeluk kamu pada dingin malam
yang haus kehangatan cahaya rembulan
mengapa kamu diam?
wahai… kata kata
dimana kamu sembunyi?
berkatalah…
meski aku lupa menegurmu
saat kupandangi cerita suka dan dukamu
pada rinai hujan
aku lupa memberi tanda
benar atau salah pada waktu yang terlewati
aku lupa
lupa menegurmu.. pada kegeraman
sumpah serapah yang jadi sampah resah
dan aku tak sempat menegurmu
pada nikmat diujung lidah yang lenyap
oleh ludah…

mengapa..?
aku tak tahu
apa salahku?
mengapa kamu diam?
mengapa?

AKU BUKAN BIDADARI

cahaya yang turun dari jauh WajahMU
memandikan tubuh renta jasadku
dengan berjuta serbuk emas
bergulir
diantara bintang dan gelap malam
menari
mengelilingi lubang pori-pori sekujur tubuh
mengalir indah di putaran nadiku
aku hanyut
pada detik detak jantungku
lalu,
dari titik gelap jauh WajahMU
Cahaya Putih MilikMU menerobos ruang dan waktu
merasuk masuk ditengah rongga kening
menghapus masa lalu,
membasuh ilusi panasnya ambisi,
membunuh virus energi yang merusak hati

biarkan saja yang hitam semakin hitam
kelabu jadi ungu
dan putih akan tetap putih
dalam rengkuh CahayaMU

kutatap malam
terlelap ditengah kelam
aku bukan bidadari yang turun dari langit
yang membalut luka pedihnya tiap hati
aku bukan bidadari untuk secuil rindu
yang menggebu tetapi gagu
dan tak bermutu !

KAU bagikan
Cahaya dari kejauhan langitMU
KAU bagikan selapis dari setetes cahayaMU
selapis dan….
setetes
demi setetes
sampai airmata yang menetes
tak mampu lagi,
basahi bumi

Satu saat nanti..

*TELAGA KAHURIPAN*

..Selasa, Ramadhan ke-9

..jam 23.30 tgl 23 Sept 2008

BAYANG

bayang
membayang
di segenap bayang bayang
sayang,
bayang wujud kamu
tak mampu terjangkau
angin senantiasa menghalau
mereka berkicau
aku kacau
kamu galau
mereka berkicau
berkicau… dan berkicau
selalu sampai beribu bayang kicau

sempat kutangkap bayang kamu
disela keheningan maya duniamu
sejak dulu bayang kamu
menghantuiku walau semu
ada tawa 
sayang, bayang kamu
bukan bayang-bayang aku
mereka berkicau
aku galau
kamu kacau
begitulah bayang kamu

dan bayang-bayang diriku
bayang disudut fatamorgana hatimu.

RUMAH MELATI

Rumah kita dulu menyimpan sejuta kenangan
rentetan perpisahan demi perpisahan
kehangatan yang terhapus jaman

Rumah adalah tubuh tubuh kita dahulu dan sekarang..
kemerdekaannya, cantiknya bukan milikmu seorang
keberadaannya hanya penghias jaman yang bakal usang

curah hujan senja tadi, menggiring gigil diruang ruang
menutup pori-pori yang semakin garang
hilang… terbang, menghilang di balik berang

dimana lentera rumah milikmu?
bocah berpayung gapai seribu
bagi dingin tubuhmu

setetes air hujan tertinggal di kelopak melati
bayang-bayangnya cermin wajah dan hati
yang tak pernah mati.