GILA GAYA

hey kamu…
mengapa meniru gaya gaya
apakah kamu tak punya gaya
atau kehilangan gaya

sebelum mati gaya..
galilah lubang pusara rasa
kubur kan saja jiwamu didalamnya
disana tersimpan jutaan molekul gaya
pada tiap sudutnya ada cahaya
mengantarmu ke lorong gaya
yang tiada habis-habisnya
kecuali kamu tetap memilih gila gaya
meniru gaya lainnya yang telah ada
kamu bisa mati gaya.

BUKAN CERITA BASI

kubuka pagi dalam alun nada
nada indah dari Kitaro
aneka nuansa cerita dibalik rasa
semangat jiwa yang tak pernah tua
meski tubuh makin renta

Kitaro, kamu bercerita tentang apa?
apakah sekelumit kisah tentang cinta kita?
ah, itu basi…

aku hayati nada indahmu
bersama secangkir kopi dan sepotong roti
gemuruh nada mu
tebarkan gejolak melodi jiwa
bagai perjalanan ratusan masa yang lalu
ketika aku bersandar pada tegar dadamu
menatap burung-burung yang menari
dari ketinggian bukit salju
kamu hanya diam
aku tahu…
hatimu bersenandung
dan aku nikmati genggaman tanganmu
yang meremas lembut jemari tanganku
apa yang tersirat dalam hatimu.. Kitaro?

kita pernah saling memiliki
meski bukan pada masa kini
nuansa cinta yang bergelayut
dan hanyut di setiap helai rasa

ah… itu, tak pernah basi.

MENGAPA?

mengapa..?
aku tak tahu
apa salahku?
mengapa kamu diam?
mengapa?
aku kawini kamu pada gemulai angin senja
saat kemuning tebarkan aroma
kupeluk kamu pada dingin malam
yang haus kehangatan cahaya rembulan
mengapa kamu diam?
wahai… kata kata
dimana kamu sembunyi?
berkatalah…
meski aku lupa menegurmu
saat kupandangi cerita suka dan dukamu
pada rinai hujan
aku lupa memberi tanda
benar atau salah pada waktu yang terlewati
aku lupa
lupa menegurmu.. pada kegeraman
sumpah serapah yang jadi sampah resah
dan aku tak sempat menegurmu
pada nikmat diujung lidah yang lenyap
oleh ludah…

mengapa..?
aku tak tahu
apa salahku?
mengapa kamu diam?
mengapa?