SERIBU MALAM YANG LALU

buah cipta : MAS GURIT (puisisurga.wordpress.com)

Seribu malam yang lalu,
di atas kakiku yang telanjang bulat,
aku berjalan meniti untaian benang rindu,
yang terbentang di antara hampa bayangmu.

Letih ini berjanji setia jadi saksi,
dan menemani ketika muram durja menerpa,
bagai sirip ikan yang menari di air dangkal,
aku menggelepar dalam bejana penantian.

Di hamparan hati yang tak pernah terbagi,
kusematkan sebuah lencana atas namamu,
dan atas nama rasa yang tak mampu bicara,
kucoba sembunyikan seulas senyum palsu.

Seribu malam yang lalu,
apalah bedanya dengan malam ini,
sebilah rindu di dada tak jua melentur,
semakin tajam kala dingin malam menghujam.

10 thoughts on “SERIBU MALAM YANG LALU

    1. hai Jaka, aku tau… kamu pasti lagi bakar ikan di pantai ya?
      haddoooh, semriwing baunya sampe kesini neh…
      O,oooo… ada rembulan diatas sana…
      ah pelabuhan ratu yg bikin rindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s