DALAM SEJUMPUT DOA

Mengurai bias inginmu
dari kejauhan
tatap
tetap menancap
pada titik diujung keningmu

kalaulah kau penerus ayahmu
yang telah lelah
dalam pusaran dosa
mengibarkan do’a
ketika putus asa

terurai bias inginmu
dari kedalaman
jejak
tapak langkahmu
pada bebatuan diujung sungai itu

kalaulah kau penerus ibumu
jangan pernah letih
dalam putaran waktu
dalam sejumput doa
dikeheningan asa..

BERSAMA RASA

kamu diam
kadang sedikit menggoda
menatapku masih saja duduk disini
dalam beku dinding yang mati

kamu diam
kadang sedikit tersenyum
melihat ulahku seperti bocah
dalam kemanjaan hidup saat resah

kamu diam
kadang sedikit terlena
melihat diriku tenang saja
dalam hamparan risau yang bungkam

kamu diam
kadang sedikit gelisah
ketika aku menghilang
lewati hari bersama melati

kamu diam
aku tak diam…
menatap dirimu
tak seperti yang kurasakan.

BAYANGMU DIMATAKU

aku selalu menungguMu
disetiap sudut malam
ketika serangga malam bernyanyi
angin malam menari
gemulai
bersama daun pepohonan
bersama bintang bintang di langit
aku terpesona…
berbaring diatas rumput
menatap langitMu
tiada batas

meski diterpa matahari
siangnya
kuhampiri juga rumah kosong itu
tak berpenghuni
tak ada suara
sepi
hampa
dedaunan kering berserakan
debu debu halus beterbangan
lewati garis garis cahaya

dalam sunyi
aku tetap akan menunggu
Kamu disini
meski harus sendiri
seperti rinduku
pada malam tadi
seperti ketika aku selalu
menungguMu
berbaring diatas rumput taman
menatap langitMu
yang tiada batas
bersama bintang
menari di hamparan awan
hingga jatuh
terlelap
dalam pelukan
rembulan

ah…
nikmatnya.

AKU DAN DIA

ditepian waktu
hening menyapa sukma
hitam atau putih
bahasa manusia
ulahnya
tragedinya
terkurung dalam putaran
putaran ruang jelajahnya
waktu,
mengapa sembunyikan rahasia
waktu…
samar gema ringkihmu
melaju
ditengah malam buta
diantara mereka yang buta
mereka yang terlena
dan mereka yang tersiksa

aku dan Dia
memutar ulang waktu

kamukah itu?
yang menyelinap sekejap
mencuri pandang tatap mataku
kamukah itu?
yang menyimpan sejumput kejujuranku
pada tarian embun pagi
kamukah itu?
yang menggoda sang bayu
pada malam sunyi
kamukah itu?
yang menyimpan musik sepi
pada rintik hujan malam tadi
kamukah itu?
yang menaruh sekeping rindu
pada kuncup melati
kamukah itu?
yang menengok lalu pergi
menyeret rindu kedalam belenggu
ditepian waktu…

aku dan Dia
masih menunggumu
sampai rindu tiba
diakhir batas waktu.

SAMPAIKAN SELAMAT MALAM PADA SANG BULAN

dipenghentian luka, duka dan suka
terukir sajak lama dari sang jiwa
bersolek untuk sebuah nama
agar tak terlupa

puing puing masa
tercerabut kemelut
kusut kisut mulut mulut
dilupa sang raga

dipenghentian sisa usia
sampaikan “selamat malam”
pada sang bulan
karena segalanya,
kan terlupakan

selamat tidur
kawan…
kenangan bersamamu tak luntur
oleh jaman.

–> untuk masa yang sedang koma.