BALADA DESEMBER

Qalbuku…
bukan kalbumu
itu yang memisahkan kita
pada balada desember
tahun lalu…
saat asap dupa mengelilingimu
saat rajawali tak kembali kesarangnya
seperti rembulan sembunyi dibalik awan
dipenghujung malam
langit desember melukis bayang.

KETIKA KAU MENCARIKU

Dulu,
ketika kau mencariku
sekian bayangan kau kejar
tanpa kelakar

aku bukan milikmu
juga bukan untuk dia
ketika curah hujan ditengah keramaian
menyibak aroma tanah dan bunga-bunga

aku tak disini
ketika kau mencariku lagi
diantara gemerlap duniamu yang hilang
tak lagi memberimu cahaya….

..seperti dulu,
ketika kau mencariku
tangismu pada selaput rindu
menyulam tirai bisu tanpa ragu

jangan sebut namaku
bila ingin kau lupakan
bila siang menjadi waktu yang panjang
dan malam hanya bayangan disela angan.

PETUNJUK

tidak akan digerakkan hati dan ragamu
untuk menemuiNya
karena DIA,
hanya memberi Petunjuk kepada
orang yang dikehendakiNya
walaupun kau telah sampai keujung
sujud tengah malam
berderai airmata dihalaman rumahNya
hingga pagi menghampirimu
dari empat penjuru cahaya
matahari
kini….
untuk apa Petunjuk itu?
pabila kau tetap bisu
dan kaku
dihadapanNya.

MUSIM PENGANTIN TIBA

jelang Desember
musim hujan yang kutunggu
tamanku berhiaskan melati
diantara rintik hujan
yang menata hari
biarkan rembulan sembunyi
dibalik awan
kegelisahan

jelang Desember
musim pengantin tiba
tiba-tiba justru aku berteriak-teriak tanpa seorangpun yang mau mendengarnya
“tooollloooonnnng…. “
gaunku
berhiaskan bunga api

ingin kuberlari kebibir pantai
agar dapat kuakhiri
duka lara tahun ini
wahai.. matahariku
untaian bunga bunga apimu
membakar luka dihati lelaki itu
yang tak sirna oleh curah hujan
pun bagi ketetapan hatinya

ooh citra…
engkaulah bayangan.

DARI LALAT KEMBALI KE LALAT

apa yang tersisa dari kesenangan kemarin?
adakah yang terlewat?
kepuasan yang sering menggeliat
ketika jemarimu menyentuh syahwat

diantara lembar-lembar maksiat
gejolak tubuh butuh sesaat
hanya sesaat
kadang lupa tersesat

gemuruh detak jiwamu,
detak pada detik akhir denyut nafasmu
malaikat berucap :
“kamu mau mati dengan gaya apa?
mengapa tak selesaikan kepuasanmu
dengan cara yang lebih terhormat?”

angan larat diujung sekarat
dalam kerumunan lalat….

SIAPA..?

kawan,
siapakah yang mengatur pertemuan ini
siapa pula yang menjadikan perpisahan
siapa yang mengikat hati kita saling merindu
siapa yang menghantar kata menuju daya cipta
siapa yang mengatur perjalanan perkenalan ini
siapa yang membuat nafas kata-kata kita semakin
panjang dan mengurai kemana saja…
siapa..?

tentu bukan aku
bukan kamu
dan bukan mereka

siapa ?
DIA Sang Maha
akan mengurai kembali segalanya
pada waktuNYA
siapa anda?

DIRUANG TAK BERNAMA..

sudahlah, ruang ini tak bernama
karena kau menunda kebaikan
karena takut kesenanganmu terabaikan
karena mengubur keburukan dalam jasadmu
hingga segala kebaikan dianggap kepalsuan
dan kepalsuan adalah keindahan bercumbuan
diruang tak bernama ini
kalau kilau kicau kacaumu
membuat kau meracau
itu tandanya kau mulai galau
sudahlah, ruang ini tak bernama
sebab kau mencoretnya dengan segala warna.

SEPENGGAL CERITA….

“selamat malam” ucapmu sambil menelan pedih
kau diam, tertunduk dalam bahasa tak terhingga
aku tahu dan aku juga rasakan
bahwa malam inilah perpisahan itu
menjemput kebersamaan kita
bukan karena tak mencintaimu
bukan pula karena tak membutuhkanmu
tetapi diantara kita tak pernah ada kata saling
yang ada hanya kata saing…

“keputusan” kau bergumam
aku diam, menatapmu dalam bahasa tak terhingga
rasa tak akan pernah dapat dipaksakan
dan aku sangat berpihak pada keadaan
kamu tahu dan kamu juga rasakan
genggaman kekar tanganmu
masih mencekal jemariku
kehangatan ini, sulit kulepaskan
sulit kuabaikan
sulit kuterjemahkan
sulit kulupakan
karena semua ini hanya bakal jadi kenangan

“sadarlah..”
kalimat ini mengejutkan anganku
yang terbang melayang menuju masa depan
“hari semakin malam..” ucapmu lagi
“malam?” tanyaku
kau mengangguk pelan
“selamat malam” bisikmu ditelingaku
kalimat ini mengundang perih
kupandangi malam yang mencengkram kegelapan
dan sisi terang dibagian lain mulai temaram
kupandangi juga wajahmu
yang tak mampu menatapku lagi
aku langsung teringat…
ketika kita tiba di puncak gunung ini
kau memahat kayu ranting yang patah
lalu melicinkannya dengan sebuah batu
yang kita temukan ditengah perjalanan
kau berikan sebagai tanda kenangan

“ranting itu ..?” tanyaku sambil terharu
“semoga kamu tak jatuh lagi”
ah, kita hanya bisa saling tatap…
dalam bahasa tak terhingga
bagi sepenggal cerita.

DIBALIK BISU

bayang semu dirimu
selalu muncul dibalik bisu
“bukan tentang bayangku”
katamu..
aku terpaku

disudut hari hari yang berlalu
segenggam melati mengelilingiku
mewangi dalam rinduku
menghias kepompongmu
sebelum kamu jadi kupu-kupu

bayang semu itu
sering membuatku terpaku
dibalik bisu.

HANYA SEBUAH BUKU

pernah,
aku diberi sebuah buku
tentang kristal kristal makna hidup
dalam berkehidupan
tetapi kamu mentertawakan

pernah,
aku benci mendengar namamu
disebut orang orang yang datang
dimatanya kulihat bayangmu
ah, betapa kerdil hidupku dimatamu

pernah,
kupersembahkan secuil harap
hingga kamu tak dapat tertidur lelap
pun aku terkesiap
sekejap

pernah,
dalam sadar
kuceritakan tentang mimpiku
hingga kamu merasa terganggu
diantara ambigu..

sudahlah jangan hiraukan lagi
tentang sebuah buku,
kamu bisa mencarinya dimana saja
tetapi tidak dalam mimpiku,
yang kamu tahu..