ANTARA RINDU DAN SENJA

jejakmu menyusuri fatamorgana
dikeheningan desa
dikebisingan kota
diri ini hanya seolah seperti
adakah kau tahu?
kemurungan rindumu menghias kerlip bintang bintang
seakan kau menaburnya sepanjang senja
yang mengintipmu
disana…
pabila senja tak lagi hadir dilangitmu
itulah saatnya,
percumbuan kita dimulai.

KEBEBASAN

bagai angin yang berhembus
tanpa aroma
tanpa suara
hening…
dalam nuansa kebekuan
angan terbang melayang
melintas disela tujuan tujuan
tanpa warna warni makna
kau hias sebebas kebebasan
diatas kanvas perjalanan
suara….
suara gemulai meniti hari
suara gaduh menata waktu
sejak berseri mentari pagi
sampai hujan tercurah dari kaki langit, dan
tak mau berhenti
karena hujan punya kebebasan
tersendiri

tawa tawa lepas bebas kebebasanmu silih berganti
bagai suara petir di angkasa bersahutan
mari nikmati dinginnya hujan
sampai malam nanti
bersama angin yang bebas menari-nari
tanpa aroma
tanpa suara
hening…
menelan kebebasan

kebebasan yang kau maknai sendiri..
pada segala ulah rupa dunia.

BULAN DAN KERUDUNG PUTIH

satu satu cahaya lampu meredup
hingar bingar serangga malam
berganti jejak sunyi
ada rasa menggelayut didahan pohon cemara
gemerisik daunnya mengantar damai
diantara bulan dan awan putih

rasanya ingin kusingkap 
agar tak menutup wajah rembulan nan ayu
bukan karena malu dan tak mampu
namun bintang tak memberi jalan menuju kesana

bulan dan dikerudung putih
menari
diantara ribuan masa bercerita
dalam gulungan tirai semesta
sampai tangis sang bayi memecah kesunyian
menyibak kerudung putih
jemput pagi.

KAU YANG TERLELAP

Samar kudengar
kau berharap
diantara lelah
nan terlelap

dalam….
didalam kedalaman
bias sejumput bisu
bangkitkan nostalgia semu
kau pun jemu
menutup aroma tubuhmu
dalam kubangan wewangian

aku tahu, semua itu kau lakukan
bukan sekedar penghias citra diri
atau alasan bagi ketidakmampuanmu
merubah kesenangan melepas keterikatan

aku tahu,
sebagaimana kau tahu
melati tetap akan mekar dan mewangi
meski kuncup-kuncupnya telah kau habisi

adakah sisa-sisa embun pagi yang menegurmu
melipat matahari?
atau adakah gemulai dedaunan berdendang
nyanyikan lagu kemenangan bagimu?

Samar
masih kudengar
kau berharap diantara lelah
nan terlelap..

KACA BURAM

langit masih seperti kemarin
mendung mengurung
tiada debu-debu beterbangan
kupu-kupu pun malas mencumbu sari bunga
saat terbit matahari baru
malu-malu
ia mendekati bunga

tapak jelajah masa
dihunian nan merindang
ada bocah-bocah nyaris terkapar lapar
ada lelaki-lelaki putus asa
ada wanita-wanita tanpa asa
ada gambaran wajah-wajah dirumah mewah
semua bagai kaca buram
tak tampak kedalamannya

ada sorgakah disana?
kalau hidup hanya sketsa kecil
dalam pantulan kaca saja.