BULAN SABIT MEMERAH

Dipenghujung senja,
masih saja kau sembunyi
dibalik jeruji ambisi hati

pantaskah bibir ini bicara
atas kelakarmu yang ambigu tak lugu
haha.. kau tertawa, aku pun tertawa

bulan sabit memerah
suara guntur memecah langit
melukis angkasa lewat garis garis cahaya

bulan sabit memerah
saat rindumu enyah menuju entah
ah… desah itu keluar dari hati

basuh jiwa kita sebelum hujan luruh
basahi bumi dan hati yang sedang uh..
agar debu dalam jiwa hilang menjauh

haha.. kau tertawa, aku pun tertawa
dalam nada yang berbeda
mengapa?.

DENDAMKAH YANG TERSIMPAN ITU… ?

Barangkali,
kau pernah bermimpi memilikinya
sedangkan aku tidak

waktu telah semakin jauh
menyeret ampas duka ke selokan rasa
kau malah tertawa

siapa yang peduli pada mimpiku ?
dan cuplikan mimpimu.. menggebu-gebu
dendamkah yang tersimpan itu… ?

Kau terlalu bermimpi memilikinya
sadarlah.. karunia kita berbeda
pada masa yang tak sama

Langit masih pesona biru
begitu pula indahnya pelangi
mampukah kau mengubahnya?

Kawan, perjalanan ini masih jauh
mungkinkah dendam itu akan luruh?
saat nanti bila kita sempat berlabuh..