AWAN DIMENSI

ada taman disana
taman bernuansa keheningan
kita semua akan kembali kesana
sebentar lagi

yang wangi dalam kata-katanya
meski tanpa suara
di sana
bukan lagi tempat yang fana
bukan pula suatu tempat
untuk datang dan pergi

hening
terbalut kabut keheningan
seperti aura dalam dimensi telepati

sepi~

SEPTEMBER

awal musim hujan yang akan datang

siapa yang memilihnya

basahi bumi

hidupkan tetumbuhan

diantara rerumputan

embun pagi ucapkan “Selamat datang”

 

hujan

selalu jatuh ke bumi

tetapi, bumi yang di sebelah mana

masihkah air yang akan turun

atau, hujan uang

bagi semua yang butuh

pada tiap perjalanan

 

September bulan kesembilan

seperti sembilan para wali

dari cerita sejarah rakyat di negeri ini

apa masih jadi panutan

beliau-beliau yang terparut zaman

adalah gambaran kita diperjalanan yang sekarang

 

nanti atau saat ini

buahnya sama

lezatnya hanya lewat ditenggorokan

apa yang bakal tersisa

dari musim hujan mendatang

bukan karena musim selalu bergulir

tapi  manusia banyak yang tergelincir~

BATAS

dinding pembatas itu

adanya gravitasi

pada tiap dimensi

kita semua akan kembali

kepada inti

 

dimana letak intisari bumi

dimana letak intisari manusiawi

dimana letak intisari yang kita cari

bukan tentang sekelumit cinta lagi

bukan lantaran iri yang jadikan dengki

bukan pula karena harus mati

 

dinding pembatas itu

rekayasa diri selimuti bumi

dipenuhi ketakutan-ketakutan

yang menutup topeng diri

kita semua akan segera kembali

ke  tempat inti buah cipta sendiri

dan,

itu pasti~

 

TIGA

mari heningkan cipta sejenak

meski diantara cermin yang telah retak

meski bumi sering menggertak

parfum tak hilangkan bau ketiak

 

kata-kata tergeletak, lalu bergerak membias

melukis wajah pendoa dan pendosa

doa sungguh tak pantas

sangat tak pantas

bagi para penghujat

 

mari heningkan cipta sejenak

sebelum bumi berhenti bergerak~

 

 

 

DUA

kita tahu

tapi mengapa pura-pura tidak tahu

atas tanda yang makin mendekat

manusia jadi mirip

se-karat

menggeliat dalam lingkaran ambisi

saling mengelupas  kepompong diri

merubuhkan tiang-tiang bumi

 

kita tahu

sayangnya, pura-pura tidak tahu

patah tumbuh

hilang..

berganti~