~ Bertanya pada Luka ~

Luka hati
bagai tersayat sembilu
darah bergejolak
sakit
pedih
perih
membakar titik api kecewa
memicu segumpal amarah
pada jiwa

Luka bakar itu
panasnya sampai ke tulang sum-sum
urat dan daging bergetar
mendengung seperti sirene
jantung berdegup keras
seolah memberi perintah
kepada lapisan sel lain dalam raga
antisipasi ke arah sekelilingnya
aaah… Luka mencipta derita
serta angkara

Luka-luka kita masih terasa
luka yang mana?
luka asap yang lahir dari sang api
luka banjir
luka tanah longsor
luka gempa
luka papua
Luka-luka bumi pertiwi
korban ambisi
siapa yang mampu mengobati
kecuali..
ibu bumi dan bapak angkasa

Turunlah wahai Penduduk langit
keluarlah wahai Penjaga bumi
lihat…
Tanah ini terkoyak-koyak
Langit pun telah penuh sampah
aaaah… cerita apa lagi
yang dapat tersampaikan
kecuali kenyataan
yang amat sangat menyedihkan
ketika luka-luka berubah jadi uka-uka..

Luka semakin menganga
mengapa manusia saling melukai?
apakah telah kehilangan nurani
sehingga hancur jati diri
padahal kita hanya menumpang di sini
di planet bumi~

BERTANYA PADA WARNA

Warna adalah gerak perubahan
mengubah kelam jadi terang
dalam proses penyatuan
yang saling menghancurkan
menuju gelap atau gemerlap

Warna adalah semesta
langit, bumi, matahari, dan galaksi
warna adalah rupa-rupa kita
kota-kota sampai kotak mengotak
pada segala gaya dan daya warna

Warna selalu bergerak
bahkan pada setiap keputusan
bijaksana atau bijaksini
warna tetap terpatri
sebagai pertanda tiap diri

Warna adalah gairah darah
yang mengalir
kemudian bergejolak
seperti saat jiwa memberontak
hadapi orang-orang yang pekak

Warna bukan sekedar bentuk
tetapi wujud otentik
seperti skenario politik
tanpa titik
menggelitik kritik-kritik

Hitam dan putih hanya warna
kekuatan dayanya mampu
mengubah sikap raga
adakah dosa disana ?
dibalik keserakahan kita…