PENCURI JIWA

mereka sembunyi
tersembunyi
menanti

mereka tak terlihat
tetapi menggeliat
mengajak sesat

kadang kita se-karat
disaat tampak akibat
penyesalan telah lewat

pencuri jiwa
tak peduli usia
menelan jiwa yang lupa

ingat.. ! ada yang Maha Pencipta
Maha Kuasa atas SegalaNya
jiwa hanyalah manifestasi DIA

Sadarlah wahai Jiwa
Kita bukanlah apa-apa
tanpa kekuatan DIA~

BERTANYA PADA JIWA

Kotak pandora terbuka
seluruh isinya keluar
gulungan segala tipu daya

Ambisi membelah dada
menelan isi kepala
membuat bodoh tuan yang buta

Waktu yang tergilas perlahan
detak gulungan tirai semesta
menyibak ribuan masa bercerita

Dunia khayal yang menerbangkan
keinginan dan kepuasan sementara
kesenangan sementara

Adakah jiwa ambigu
selain jiwa yang terkutuk
sementara?

Kotak pandora terbuka
menyusuri jejak fatamorgana
hanyut di alam semesta

Kemana tujuanmu sang jiwa?
apa hanya sampah di alam semesta?
memilukan sekaligus memalukan

Kotak pandora menutup kembali
setelah segalanya jadi usang
pada tempat yang berbeda~

TUHAN Kamu dimana ?

Pada sekejap cerita manusia
yang hidup di alam fana sekarang ini
bersifat hanya sementara saja..
kehidupan sesungguhnya,
di alam akhirat.. ada perjalanan panjang
menuju Surga atau Neraka

tapi Tuhan… tahukah Kamu?
banyak manusia yang kehilangan jati diri
mereka berubah seperti binatang
mereka takut kehabisan stok makanan
mengurangi populasi manusia
dengan perang yang menghancurkan

ternyata, keserakahan atas nikmat dunia
telah merusak rasa kemanusiaan
entah apa yang akan terjadi selanjutnya?
kami serahkan semuanya kepadaMu
Engkau Pemilik kerajaan Langit dan Bumi
ijinkan kami melihat KeajaibanMu~

~Jakarta, 17 Juni 2009~
~~~> pos ulang, Bogor, 23 Desember 2019~

BERTANYA PADA DIRI

Apakah kau telah bercermin?
kau tahu.. dititipkan wajah itu
dititipkan sebuah negeri
bukan untuk saling menguasai
hingga kehilangan rasa manusiawi

Apakah dirimu lupa…?
memiliki wajah sebagai manusia
atas jalan panjang yang melukiskan
potret kepedihan dan kesengsaraan
dari ulah kerakusanmu

Kalau saja.. aku adalah alam
aku mampu tenggelamkan
negerimu sebagai balasan atas
negeri yang telah kau hancurkan
bersama penduduknya

Kalau saja, aku adalah alam
tanpa ribuan senjata untuk hancurkan negerimu
hanya dengan ijin pemilik kerajaan Langit dan Bumi
bagaimana kalau serangan itu berbalik ke tempatmu?
Seperti apa yang sedang kau tunjukkan pada dunia

Planet bumi sebuah titipan bagi seluruh mahluk hidup
kalau saja, aku adalah alam
aku dengar pohon menangis.. hewan pun punya rasa
bisa saja jadi ancaman
atas kesombonganmu sebagai manusia

Siapakah penduduk langit?
siapa pula penduduk dibawah lapisan bumi?
yang tak tampak dan kau tak peduli
mereka bisa juga jadi ancaman
bagi kesombonganmu

Atau.. apabila tetap pada pilihanmu
menghancurkan seluruh lapisan bumi
mari bersama kita lupakan
bahwa kita pernah jadi bagian
di planet bumi~

BERTANYA PADA RUANG

Dalam masa kandungan ibu
adalah ruang pertama yang kita kenal
sebagai manusia dan juga hewan
seperti ruang inkubasi otomatis
setelah melewati dimensi Nol
yang jadi rahasia Sang Maha Pencipta

Ruang dimensi kedua
mulai perjalanan jiwa
belajar mengenal kehidupan lain
hadir pada kursi pendidikan
bahkan bisa sampai ke jabatan
tergantung keberuntungan

Ruang adalah takdir kehidupan
bukan pilihan sebagai anak keluarga miskin
tetapi bisa jadi kaya dengan segala cara
yang tersurat atau pun tersirat
berawal dari niat
dan tekad

Ruang peradaban ini telah berulang
bisa jadi kita telah hadir berabad lalu
berubah bentuk jadi binatang, pepohonan..
atau sebagai ikan dan air di lautan
dan atau, bisa jadi hanya kumpulan bebatuan
itukah penyebab sebutan si kepala batu?

Ruang yang kita tempati tentu berbeda
seperti pada saat ini
ada ruang orang baik dan diakui
ada pula ruang orang setengah baik
yang mudah dipengaruhi
aturan kuno perangkap ego manusia lain

Ruang kelas yang pernah kita singgahi
mestinya jadikan kita tak perlu berhutang
hutang berhutang justru pemicu perang
perang yang menghancurkan setiap ruang
hukum alam kembali peradaban berulang
menuju ke ruang dimensi ke lima

Adakah ruang pemalas dan penghianat di sana?

BERTANYA PADA CINTA

Aku pernah jatuh cinta
berselimut rindu
pada dialog angan dan cita
yang terkoyak perlahan oleh cemburu

Cinta..
apakah kau hanya seutas rasa
yang dengan mudah berubah
dari ingin memiliki jadi benci

Benang rindu perlahan getas
angan dan cita bersama menjauh
sekejam itukah permainan rasa
dalam jerat belenggu dusta

Dikejauhan sana,
bendera cinta berkibar
“Selamatkan planet bumi”
dari iklim, politik, dan ekonomi

Cinta…
dimanakah kau sembunyi ?

~ Bertanya pada Luka ~

Luka hati
bagai tersayat sembilu
darah bergejolak
sakit
pedih
perih
membakar titik api kecewa
memicu segumpal amarah
pada jiwa

Luka bakar itu
panasnya sampai ke tulang sum-sum
urat dan daging bergetar
mendengung seperti sirene
jantung berdegup keras
seolah memberi perintah
kepada lapisan sel lain dalam raga
antisipasi ke arah sekelilingnya
aaah… Luka mencipta derita
serta angkara

Luka-luka kita masih terasa
luka yang mana?
luka asap yang lahir dari sang api
luka banjir
luka tanah longsor
luka gempa
luka papua
Luka-luka bumi pertiwi
korban ambisi
siapa yang mampu mengobati
kecuali..
ibu bumi dan bapak angkasa

Turunlah wahai Penduduk langit
keluarlah wahai Penjaga bumi
lihat…
Tanah ini terkoyak-koyak
Langit pun telah penuh sampah
aaaah… cerita apa lagi
yang dapat tersampaikan
kecuali kenyataan
yang amat sangat menyedihkan
ketika luka-luka berubah jadi uka-uka..

Luka semakin menganga
mengapa manusia saling melukai?
apakah telah kehilangan nurani
sehingga hancur jati diri
padahal kita hanya menumpang di sini
di planet bumi~

BERTANYA PADA WARNA

Warna adalah gerak perubahan
mengubah kelam jadi terang
dalam proses penyatuan
yang saling menghancurkan
menuju gelap atau gemerlap

Warna adalah semesta
langit, bumi, matahari, dan galaksi
warna adalah rupa-rupa kita
kota-kota sampai kotak mengotak
pada segala gaya dan daya warna

Warna selalu bergerak
bahkan pada setiap keputusan
bijaksana atau bijaksini
warna tetap terpatri
sebagai pertanda tiap diri

Warna adalah gairah darah
yang mengalir
kemudian bergejolak
seperti saat jiwa memberontak
hadapi orang-orang yang pekak

Warna bukan sekedar bentuk
tetapi wujud otentik
seperti skenario politik
tanpa titik
menggelitik kritik-kritik

Hitam dan putih hanya warna
kekuatan dayanya mampu
mengubah sikap raga
adakah dosa disana ?
dibalik keserakahan kita…

 

Jelaga di atas telaga

Perjalanan panjang
seperti rindu tanpa batas
kenangan demi kenangan
bagai jelaga yang terbang
mengapung
meninggalkan api unggun
pada bayang air di atas telaga

Malam ini,
aku berusaha mengingat
Lembaran kertas usang
sisa catatan yang telah jadi abu
tanah terdiam
angin berbisik :
…Lupakan itu.. !
Segalanya telah jadi arang

Di tepi telaga ini
sepi..
rombongan manusia itu
yang merusak alam disekitarku
pergi menjauh
airmataku menetes..
menyatu bersama jelaga
diatas riak air telaga

Aku hanya selembar daun
yang terbawa angin.. lalu
mendarat di bibir rerumputan
entah telah berapa kali,
angin membawaku terbang
dan, entah sampai kapan…?
angin berbisik :
…Lupakan itu.. !
Segalanya telah jadi arang~

Antara Matahari dan Matahati

Matahari telah lama ada
sebelum kita hadir
panas cahayanya membakar energi
jadi bagian dari sel tubuhmu
agar dapat berkarya
dapat mengembangkan keturunan
dapat berlari
bahkan dapat sembunyi
dari kenyataan

Andai Adam dan Hawa
tak terusir dari surga
karena tertutupnya matahati, maka…
tidaklah berkembang sampai sekarang
menjadi kita
kita yang telah saling mengenal
Budaya masing-masing
kita juga yang mengulang kehancuran
Bangsa masing-masing

Diantara matahari dan matahati
ada api yang selalu mengintip
gerak bahasa hasratmu
ia sembunyi dibalik hamparan planet ini
dan kini, ia bergerak menari
bersama tarian api dalam tubuhmu
dimana matahati sembunyi?
sedangkan matahari tetap tersenyum
menemani harimu~

Antara debu dan merdeka

Debu..
ia bebas
bagaikan serombongan anak bermain
berlarian bersama angin
dari kabut asap yang tak kompak
akibat kebakaran hutan
sampah batu bara yang beterbangan
juga cucu wedus gembel yang muntah
dari perut bumi
dan, cicit termungil dari polusi udara

Debu adalah..
sampah udara yang kita ciptakan sendiri
serta racun yang meracuni tubuh
secara perlahan-lahan
Limbah dari pabrik-pabrik
dari kendaraan yang kita tumpangi
awalnya merupakan kebutuhan
selanjutnya hanya pakaian gengsi

Bung,
apakah kita sudah merdeka?
atau.. akan kembali jadi debu?

PENGHUNI ZAMAN

Kita belum beranjak dari sini
Planet bumi yang mengundang
bermacam tarian ambisi
Imajinasi, ilusi, serta halusinasi
catatan demi catatan
masih tersimpan di candi-candi
juga pada buku-buku usang
bekas harapan yang terbuang
tentang keburukan perilaku, atau
tentang pejuang kebenaran, dan atau
tentang pencerahan kesadaran

Disepertiga malam,
masih terdengar gema
sisa hirukpikuk dunia
yang sembunyi
disebalik bayang hasrat duniawi
tahta, harta, dan wanita
ialah candu yang memabukkan
yang sulit terlepas dari jiwa
jiwa yang terikat hasrat duniawi
tanpa jeda
tanpa basa-basi
tanpa permisi
hingga pada akhirnya,
menjadi nisbi…

Padahal perjalanan ini masih panjang
berapa bangsa saling menghancurkan
meleburkan jiwa-jiwa ketungku dendam
itulah cikal bakal keserakahan
yang memilukan
sekaligus memalukan
karena kita bukanlah hewan

Disepertiga malam,
masih terdengar gema
sisa hirukpikuk dunia
kita belum beranjak dari sini
Planet bumi yang mengundang
bermacam tarian ambisi
imajinasi,
ilusi,
serta halusinasi
seperti apakah penghuni zaman nanti?
barangkali…
lebih dahsyat lagi~

MENGENAL TITIK

dan ketika mata ini mengatup
maka tampaklah segala yang tak nampak
begitu jelas menyusuri pori-pori hati

KAMU masih mencintai kami bukan ?
tanpaMU…
kami hanyalah mata yang terkatup
tertutup
gelap
dan sia sia

satu ketika,
saat KAMU beri kami cahaya
maka kami mengenal TITIK~

HELAI RASA

kutelan juga racun yang kamu suguhkan
racun cinta bikin mabuk kepayang
kepalang..
kutelan
sebagai asupan
gizi yang kamu ceritakan
dihadapan rembulan

masih kuingat,
ketika kujilati tiap helai rasa
yang kamu berikan
saat kamu robek isi dadaku
dengan pedang kemunafikan
tak pantas sehidup semati
harakiri lebih berarti
itu ucapku…dalam hati

kutelan saja segala racun
yang kamu berikan
kutelan semua sampai kenyang
kemudian,
kumuntahkan dihadapan rembulan
cahayaNya menjilati tepian hati
bagai batu kristal berwarna-warni
yang turun dari langitMu
melumuri mahkotaku

Ini hanya bagian dari mimpi..?

kutelan segaris ukiran ulah rupa dunia
dari masa ke masa
sebait nama tak ubahnya lentera sepi
yang mengingatkan kala sepi menerkam
kutelan juga dalam cengkeraman malam
saat rembulan diam-diam menghilang
kedalam tenggorokan.