BERTANYA PADA CINTA

Aku pernah jatuh cinta
berselimut rindu
pada dialog angan dan cita
yang terkoyak perlahan oleh cemburu

Cinta..
apakah kau hanya seutas rasa
yang dengan mudah berubah
dari ingin memiliki jadi benci

Benang rindu perlahan getas
angan dan cita bersama menjauh
sekejam itukah permainan rasa
dalam jerat belenggu dusta

Dikejauhan sana,
bendera cinta berkibar
“Selamatkan planet bumi”
dari iklim, politik, dan ekonomi

Cinta…
dimanakah kau sembunyi ?

PERJALANAN

Berkelok ke kanan dan kiri

Adalah jalan panjang sang jiwa

Merenda suka dan duka

Menuju tikungan waktu

Pada Peradaban yang berulang

Pada panggung yang sama

Pada bahasa yang sama

Pada jalan-jalan yang sama

Tetapi jalan pulang berbeda-beda

Kita lupa menghargai seragam

Sebagai tanda persatuan dengan Tuhan

Seperti sebuah pernikahan

Yang Maharnya jagad semesta raya

Ooo, manusia…

Kita bukan dewa, dewa pun bukan kita

Api melahap rumah kita

Air pun demikian dengan mudahnya

Kita bukan hewan, hewan pun bukan kita

Tetapi bersama mencetak sejarah

Sejarah…

yang menolak untuk tidak dicatat~

: bisik ilalang~

tengah malam kembali
menebar hening
dihamparan dingin, 
yang memecah senyap
seperti mimpi yang tergerus
dalam…
dikedalaman sunyi

sepi selalu ingin memutar waktu
tengoklah..

bunga-bunga pohon randu
beterbangan dihempas angin
kerinduan untuk tumbuh kembali
di bukit sana
indahnya ia menari
diantara pekat kehangatan
malam
menyimpulkan seluruh hening

padamu sepi,
sampaikan kelakar sunyi ini
kepada embun pagi
: bisik ilalang~

AROMA KOPI

perjalanan nan panjang
dalam rentang waktu tak terbatas
meski senantiasa ada jeda disana
pada lukisan kesetiaan jiwa
serta bias keabadian sukma

dimana tempat berlabuh
yang sungguh, tanpa…
“huh…”
helaan nafas dedaunan, adalah
warna langit kita yang usang

sensasi-sensasi produk ambisi
sering mengilhami sisi beku hati kita
“hmm….”
nyaris lenyap dalam sekejap
tinggal aroma kopi yang tak pergi~

PADA TITIK TANYA

mengapa dedaunan menghijau
ketika musim hujan
apakah Kamu mewarnainya
mengapa
jiwa diantara kami beda
apakah Kamu menginginkannya
mengapa
diantara kami ada yang dapat membaca
isi hati dan pikiran hampir setiap orang
sedangkan orang lain tidak
mengapa
perjalanan kami semua berbeda
meski dalam konsep yang sama
hanya tentang duka dan suka

Guru
entah sejak kapan Kamu
memulainya
apakah dulu aku juga pernah ada?

pada kehidupan dimasa lampau
Dimana?

Guru
siapakah Kamu Sesungguhnya..
sehingga aku merasa kosong
tak memiliki apapun
namun Kamu senantiasa

memberi apa pun~
13528731_1035467699894012_8965065240471861754_n

ESA

Story of dream and poetry

Somewhere in my dream story about poetry

Siapakah Sang Maha Pencipta?
kalau kau tak mengenalNya, maka..
tanyakan saja pada rumput yang bergoyang
pada matahari yang mencairkan embun pagi
saat tasbih di jemarimu meleleh
ketika kau asyik meleburkan sejumput do’a bagi semesta
serta seluruh kehidupan..
di kelopak mata rantai EsaNya~

 

 

 

DISANA

dan Kamu Kekasih…
masih tetap berdiri disana
diatas catatan-catatan
milyaran tahun lalu
dibalik misteri peradaban
disetiap lukisan-lukisan
pencarian anak cucu Adam
yang selalu butuh jawaban

dan Kamu Kekasih…
membalut dirimu pada
berjuta-juta bingkai makna
dalam hening diantara yang fana
Kamu, Kekasihku..
senantiasa diam
~disana~

DITEPI MALAM

akhirnya
kutemukan tanda-tanda itu
sejak tiada
jadi samar
membayang
kadang hilang
lalu tampak kembali
meski hanya sejenak

ditepian malam kutemukan
jawaban
namun..
harus memulai
darimana?
aku tak mampu
berbuat apa-apa

kucoba meniti
tepian keping hati
meski sepi menerkam
darah mengental
denyut dan debar
perlahan-lahan menyatu
pada bibir bisu
sang malam

ditepian ini kurasakan
nikmatnya CintaMU
Tuhan.

SETETES AIR

Setetes air jatuh
diatas pecahan kaca cermin
cermin yang telah bertahun menatap
wajah wajah
mempercantik
kecantikan?
atau memoles keburukan
cermin yang setia protes
tanpa kata…
ada garis lurus disana
dipermukaannya
antara pecahan cermin dan setetes air
bias bias cahaya
apa adanya
seperti kita,
sebelum ada.