BERTANYA PADA JIWA

Kotak pandora terbuka
seluruh isinya keluar
gulungan segala tipu daya

Ambisi membelah dada
menelan isi kepala
membuat bodoh tuan yang buta

Waktu yang tergilas perlahan
detak gulungan tirai semesta
menyibak ribuan masa bercerita

Dunia khayal yang menerbangkan
keinginan dan kepuasan sementara
kesenangan sementara

Adakah jiwa ambigu
selain jiwa yang terkutuk
sementara?

Kotak pandora terbuka
menyusuri jejak fatamorgana
hanyut di alam semesta

Kemana tujuanmu sang jiwa?
apa hanya sampah di alam semesta?
memilukan sekaligus memalukan

Kotak pandora menutup kembali
setelah segalanya jadi usang
pada tempat yang berbeda~

Pesan dari Langit

Telah banyak yang datang ke langit
Ada yang bertemu dengan Dewa Zeus
Ada yang bertemu dengan Para Dewi di Khayangan
yang bertemu dengan Para LeluhurNya
bertemu dengan para Siluman, dan Iblis
Ada juga yang bertemu dengan Alien
Sensasi perjalanan pun berbeda
Lalu kembali membawa hasil masing-masing
untuk dibagikan kepada kelompok masing-masing
pada zamanNya

Catatan itu telah berulang kali dicetak
Semua memiliki aturan, tetapi..
mengapa terjadi benturan
sehingga ada kesan tidak beraturan
hingga datanglah bencana
yang dianggap sebagai teguran
benarkah seperti itu?
siapa yang menegurnya?
alam semestakah? atau..
hanya sebatas pemikiran manusianya saja

Satu hal yang pasti
Hidup merupakan serentetan masalah
demi masalah, serta perpisahan
demi perpisahan
Ingat dan waspada
kursi-kursi alam mulai goyang
angin surga bingung tidak tentu arah
hujan masih menanti keputusan
Zeus melecutkan petirnya
bayangan Hera saling berebut mahkota
dengan Medusa

udah aah, aku lelah menulisnya
Lalu bagaimana nasib planet bumi, boss?

Signal menghilang..
pembicaraan terputus~

AWAN DIMENSI

ada taman disana
taman bernuansa keheningan
kita semua akan kembali kesana
sebentar lagi

yang wangi dalam kata-katanya
meski tanpa suara
di sana
bukan lagi tempat yang fana
bukan pula suatu tempat
untuk datang dan pergi

hening
terbalut kabut keheningan
seperti aura dalam dimensi telepati

sepi~

BATAS

dinding pembatas itu

adanya gravitasi

pada tiap dimensi

kita semua akan kembali

kepada inti

 

dimana letak intisari bumi

dimana letak intisari manusiawi

dimana letak intisari yang kita cari

bukan tentang sekelumit cinta lagi

bukan lantaran iri yang jadikan dengki

bukan pula karena harus mati

 

dinding pembatas itu

rekayasa diri selimuti bumi

dipenuhi ketakutan-ketakutan

yang menutup topeng diri

kita semua akan segera kembali

ke  tempat inti buah cipta sendiri

dan,

itu pasti~

 

TIGA

mari heningkan cipta sejenak

meski diantara cermin yang telah retak

meski bumi sering menggertak

parfum tak hilangkan bau ketiak

 

kata-kata tergeletak, lalu bergerak membias

melukis wajah pendoa dan pendosa

doa sungguh tak pantas

sangat tak pantas

bagi para penghujat

 

mari heningkan cipta sejenak

sebelum bumi berhenti bergerak~

 

 

 

DI BUKIT ASTRAL

sukma yang tersisa
dari tahun menahun
tanpa hitungan

kecepatan cahaya
dalam bongkah kiprah
se-arah
atas sebuah perjanjian
tergenapkan
diatas ketidaktahuan

lapisan es bagai hamparan kristal
pada tiap jengkal langkah kaki
diatas jejak tapak peradaban
diantara sengatan labirin waktu
bukit astral menjauh
garis-garis cahaya membisu

semua biru
segalanya baru
kecuali debu~

KAU dalam Derap

KAU
adalah bagian dari isi kepala
sekaligus mantra-mantra hati
pada warna angan Pemuja DIRI
KAU
adalah bagian dari gerak
sekaligus Pembenaran Ahlak
pada kebebasan Berkehendak
KAU
adalah bagian dari isi bumi
sekaligus aneka pelengkap
pada Perangkap sendiri
KAU
bukanlah butir waktu yg terlewati
sekaligus bukan Pencipta Waktu
pada titian tata periLaku
KAU
bukanlah KAMU Sang Penggerak
sekaligus MAHA Berkehendak
pada akhir Kisah sebuah Derap
Langkahmu hari ini
adalah cermin masa akhir Diri~

“Selamat malam Lentera Rinduku”

selamat malam lentera rindu
aku terdampar
di rimba tak bertuan
menangisi luka pada relung jiwa
yang nyaris se-karat

selamat malam lentera rindu
seringkali Kamu membuatku terpukau
tasbih meleleh oleh api cintamu
yang menembus pori-pori
hingga nadiku bersayap mentari

selamat malam lentera rindu
aku kehabisan kata-kata
untuk merangkai do’a
agar tak tenggelam dalam janji
di rimba tak bertuan ini

~selamat malam lentera rinduku~

Untuk : IBUNDA

saat hujan menepis kelelahan
aku masih berpayung rindu
dibelantara mimpi
langit telah membuka tabir

diantara segumpal cahaya
yang kau simpan disudut terasku
lembayung senja mengantar pelangi
aku masih ingat saat indah itu

kita saling berkejaran
jembatan gantung pun bergoyang
rinduku terbang…
bersama bunga bunga ilalang

Bunda,
hujan berhenti sisakan dingin
aku masih berpayung rindu
rindu kelambu sutramu.

MIMPI INDAH

Malam mengantar menuju kejauhan
terbang melayang
menggapai gelap
ruang-ruang
antara ada dan tiada
saling merengkuh
dikeheningan derap malam
perlahan-lahan,
angan mengambang
tanpa bintang menari-nari
tanpa saksi
diam
sepi menerpa
sunyi menikam
senyap
terlelap
dibawah pohon ara
bulan jatuh
kedalam pelukan
ah, mimpi…
indah nian.

~2013~

BUKAN MIMPI

sepi
hening
senyap
sunyi
alam terdiam
suara serangga malam terkunci
bungkam
membisu
tiada suara lain,
selain nyanyian nafasMU
yang KAMU titip dijantungku
malam itu….
dinding kamarku pun merona
merah jambu
seperti cinta yang hadir
dari jasad ibu.. saat aku lahir

hingga pagi kutatap
awan berarak menghias kesenyapan
yang masih kurasakan
sampai datang malam
perlahan…
sepi menghilang
dalam rintik hujan
yang membiaskan nada nada indah
dari langitMU

terimakasih sunyi
aku masih disini,
bukan mimpi.

BULAN SABIT MEMERAH

Dipenghujung senja,
masih saja kau sembunyi
dibalik jeruji ambisi hati

pantaskah bibir ini bicara
atas kelakarmu yang ambigu tak lugu
haha.. kau tertawa, aku pun tertawa

bulan sabit memerah
suara guntur memecah langit
melukis angkasa lewat garis garis cahaya

bulan sabit memerah
saat rindumu enyah menuju entah
ah… desah itu keluar dari hati

basuh jiwa kita sebelum hujan luruh
basahi bumi dan hati yang sedang uh..
agar debu dalam jiwa hilang menjauh

haha.. kau tertawa, aku pun tertawa
dalam nada yang berbeda
mengapa?.