KOTAK PERJALANAN KEDUA

Bila tiada jarak
maka tak ada perjalanan
sepi
diam
tanpa gerak
tanpa lalu lalang pikiran
tanpa getaran emosi
bahkan tanpa ambisi

Diam merupakan sesuatu
yang tak semua orang mau
dan mampu melakukan
kau yang menyuruhku diam
terimakasih telah sangat peduli
kalaupun benci pada kata-kataku
biar alam saja yang membacanya

Saat ini banyak kaki yang lemah
seluruh manusia harus diam
dan menutupi mulutnya
namun, masih banyak kata
yang tersimpan pada bulir udara
masih banyak doa yang lebih
dari kekuatan alam semesta
daripada sekedar mantra

Banyak perjalanan yang tak mau
semua orang melakukan
tetapi kehidupan tetap bertumbuh
biarkan alam mengerjakan tugasnya
memilah dan memilih sesukanya
mari kita buka dengan doa
Kotak Perjalanan Kedua.

DI TEPI TELAGA KUMITIR

Satu senja di tepi telaga Kumitir
ada yang tersingkir dan ada yang hadir
getaran cinta tetap membahana
bangkitkan yang hilang jadi ada

Selembar cinta itu tersangkut
disela puing-puing talud
kupelintir prosa bagi masa lampau
bergumpal menyatu seperti batu-batu

Zaman segera berubah adanya
para pencari menggugah sejarah silam
sehelai daun bergumam di tepi telaga
“Selamat tinggal kelam”

SAJAK UNTUK KUMITIR

Peperangan jiwa segera berakhir
musafir hadir di Kumitir
datang dari masa lampau
menutup pintu-pintu galau

Meski puing-puingmu menutupi telaga
keindahan bunga masih tercium disana
mekar mewangi di taman rasa
hiasi pelaminan sang bidadari raja

Pesona Kumitir di telaga senja
ini hari-hari baru bagimu
bangkitlah…bangun segera
dari tidur panjangmu

Tak baik mabuk pada cinta maya
maya mengundang bencana
lembaran kusam itu, hapus saja!
biarkan dendam terkubur semua

Tenggelam dalam kematian
yang kembali, lahir bagi kehidupan
“Selamat datang para musafir”
di pintu masuk gapura Kumitir.

untuk : @ArkeoVlog
~Tim Ekskavasi Situs Kumitir Jawa Timur
~BPCB Jawa Timur
~Yayasan PATI dan seluruh tim pendukung

DUNIAWI

Srigala lapar itu berdiri pongah
bayangannya hitam
dibasuh cahaya purnama
seolah menabuh genderang perang
yang belum selesai pada kepuasan
kenikmatan santapan duniawi
begitulah.. sak karepe ndewe

Mengapa dosa itu, nikmat..?
ada setan yang setia menggoda iman
menghasut hati dan jiwa
mengiming-iming keindahan
kesyahduan yang mengasyikan
hanyut… hingga lupa daratan
berenang dilautan kemunafikan

manusia diambang kehancuran
menuju keajaiban kesadaran jiwa
biarlah yang hitam tetap hitam
dan yang putih semakin putih
peradilan agung menuju keabadian
menyatu pada kelompok puzzle jiwa
yang telah ditentukan bagi hidup kita.

RUANG dan WAKTU

Adalah perputaran dan pertukaran
bukan tentang untung dan rugi
bukan pula soal kepemilikan
dan penguasaan

Karma hanya sebuah alasan
yang terjadi dari akibat sebab
sejak dulu, peradaban berulang
saksi itu adalah ruang dan waktu

Perputaran matahari dan bulan
merupakan ibadah yang panjang
pada pertukaran takdir kehidupan
sang Pendosa serta sang Pendoa

Malaikat yang tak terlihat
selalu mencatat
apa pun napsu yang menggeliat
dan, saat ruang dan waktu terlipat

Masih adakah ruang kasat mata..?
bagi kepuasan raga semata
kemana perginya sang jiwa..?
ketika waktu meninggalkannya

Semoga kita semua menyadarinya.

COVID

Covid
kau buat perut melilit
bakul jamu pailit
terlilit puja puji
memuja bukan jati diri

Covid
kau buat pikiran sempit
penjahat lari terbirit-birit
terjepit kerumunan massa
pasrah pada takdir dirinya

Covid
tempatmu bukan di sini
tetapi di sana di muara hati
orang yang tak punya nama
dan juga tak punya kepala

Covid
pergilah dari negeriku
bawa pulang pengikutmu
telan seluruhnya sepuasmu
jangan ganggu surgaku~

demi kian Tuan..

Demikian
indah lantunan irama rindu
pada derita
disela bilah hati yang terbelah
oleh berbagai masalah
namun rindu, tetaplah hanya rindu
pada garis menunggu

Demi Kian
tebaran pesona
namun tanpa fakta
tetaplah hanya pesona
digaris fatamorgana
banyak yang tersasar ulah rindu
dibalik permainan rasa

sedemikian
banyak rindu dan pesona
tanpa jalinan rasa
apa jadinya…. ?
jujur saja,
supaya semua mujur
dan tidak tersungkur~

GETARAN TUHAN

Semilir angin menerpa
diantara desing peluru
dan juga kelaparan

Adakah kau dengar suara itu?
diantara pesta kerakusan,
dan waktu yang mengibaskan  

Napsu itu membuat lupa
buta dan tuli
seolah pesta tak akan usai

Perlahan,
kicau burung menghilang
pada peperangan jiwa kemarin

ada zombie, ada longsor
tsunami pembersihan jiwa
getaran itu ada dimana-mana

Pada malam seribu bulan
membias catatan hidupmu  
aah, sudahilah mual itu

Semilir angin menerpa
diantara detak jam dinding
dan sepi yang mencekam.

~tentang WAYANG~

Pada cerita perang di Kurukshetra
antara Pandawa dan Korawa
berawal dendam Duryodana pada Yudistira

Berbeda dengan perjuangan Yulius Caesar
seorang Diktator Republik Romawi
akhirnya tewas ditangan para Senatornya

sedangkan Tunggul Ametung raja di Tumapel
dibunuh oleh pengawalnya sendiri, Ken Arok
yang tergoda kecantikan permaisuri Ken Dedes

Harta, tahta, dan wanita
sejak dulu memang menggoda
sedangkan kita, hanya wayang akhir zaman

Akhir zaman yang memabukkan
zaman edan.. tak edan tak kebagian
itu kata ronggowarsito atau ramalan..?

ketika sabdo palon nagih janji
goro-goro tak dapat dihindari
akhirnya Pada Susah Bareng Bareng (psbb)

Wis yoo sabar wae
wis wayahe toh.. kie.. ?
wayang yo karepe Sang Dalang wae~

PENGHUNI ZAMAN

Kita belum beranjak dari sini
Planet bumi yang mengundang
bermacam tarian ambisi
Imajinasi, ilusi, serta halusinasi
catatan demi catatan
masih tersimpan di candi-candi
juga pada buku-buku usang
bekas harapan yang terbuang
tentang keburukan perilaku, atau
tentang pejuang kebenaran, dan atau
tentang pencerahan kesadaran

Disepertiga malam,
masih terdengar gema
sisa hirukpikuk dunia
yang sembunyi
disebalik bayang hasrat duniawi
tahta, harta, dan wanita
ialah candu yang memabukkan
yang sulit terlepas dari jiwa
jiwa yang terikat hasrat duniawi
tanpa jeda
tanpa basa-basi
tanpa permisi
hingga pada akhirnya,
menjadi nisbi…

Padahal perjalanan ini masih panjang
berapa bangsa saling menghancurkan
meleburkan jiwa-jiwa ketungku dendam
itulah cikal bakal keserakahan
yang memilukan
sekaligus memalukan
karena kita bukanlah hewan

Disepertiga malam,
masih terdengar gema
sisa hirukpikuk dunia
kita belum beranjak dari sini
Planet bumi yang mengundang
bermacam tarian ambisi
imajinasi,
ilusi,
serta halusinasi
seperti apakah penghuni zaman nanti?
barangkali…
lebih dahsyat lagi~

MENGENAL TITIK

dan ketika mata ini mengatup
maka tampaklah segala yang tak nampak
begitu jelas menyusuri pori-pori hati

KAMU masih mencintai kami bukan ?
tanpaMU…
kami hanyalah mata yang terkatup
tertutup
gelap
dan sia sia

satu ketika,
saat KAMU beri kami cahaya
maka kami mengenal TITIK~

HELAI RASA

kutelan juga racun yang kamu suguhkan
racun cinta bikin mabuk kepayang
kepalang..
kutelan
sebagai asupan
gizi yang kamu ceritakan
dihadapan rembulan

masih kuingat,
ketika kujilati tiap helai rasa
yang kamu berikan
saat kamu robek isi dadaku
dengan pedang kemunafikan
tak pantas sehidup semati
harakiri lebih berarti
itu ucapku…dalam hati

kutelan saja segala racun
yang kamu berikan
kutelan semua sampai kenyang
kemudian,
kumuntahkan dihadapan rembulan
cahayaNya menjilati tepian hati
bagai batu kristal berwarna-warni
yang turun dari langitMu
melumuri mahkotaku

Ini hanya bagian dari mimpi..?

kutelan segaris ukiran ulah rupa dunia
dari masa ke masa
sebait nama tak ubahnya lentera sepi
yang mengingatkan kala sepi menerkam
kutelan juga dalam cengkeraman malam
saat rembulan diam-diam menghilang
kedalam tenggorokan.