PENGHUNI ZAMAN

Kita belum beranjak dari sini
Planet bumi yang mengundang
bermacam tarian ambisi
Imajinasi, ilusi, serta halusinasi
catatan demi catatan
masih tersimpan di candi-candi
juga pada buku-buku usang
bekas harapan yang terbuang
tentang keburukan perilaku, atau
tentang pejuang kebenaran, dan atau
tentang pencerahan kesadaran

Disepertiga malam,
masih terdengar gema
sisa hirukpikuk dunia
yang sembunyi
disebalik bayang hasrat duniawi
tahta, harta, dan wanita
ialah candu yang memabukkan
yang sulit terlepas dari jiwa
jiwa yang terikat hasrat duniawi
tanpa jeda
tanpa basa-basi
tanpa permisi
hingga pada akhirnya,
menjadi nisbi…

Padahal perjalanan ini masih panjang
berapa bangsa saling menghancurkan
meleburkan jiwa-jiwa ketungku dendam
itulah cikal bakal keserakahan
yang memilukan
sekaligus memalukan
karena kita bukanlah hewan

Disepertiga malam,
masih terdengar gema
sisa hirukpikuk dunia
kita belum beranjak dari sini
Planet bumi yang mengundang
bermacam tarian ambisi
imajinasi,
ilusi,
serta halusinasi
seperti apakah penghuni zaman nanti?
barangkali…
lebih dahsyat lagi~

MENGENAL TITIK

dan ketika mata ini mengatup
maka tampaklah segala yang tak nampak
begitu jelas menyusuri pori-pori hati

KAMU masih mencintai kami bukan ?
tanpaMU…
kami hanyalah mata yang terkatup
tertutup
gelap
dan sia sia

satu ketika,
saat KAMU beri kami cahaya
maka kami mengenal TITIK~

HELAI RASA

kutelan juga racun yang kamu suguhkan
racun cinta bikin mabuk kepayang
kepalang..
kutelan
sebagai asupan
gizi yang kamu ceritakan
dihadapan rembulan

masih kuingat,
ketika kujilati tiap helai rasa
yang kamu berikan
saat kamu robek isi dadaku
dengan pedang kemunafikan
tak pantas sehidup semati
harakiri lebih berarti
itu ucapku…dalam hati

kutelan saja segala racun
yang kamu berikan
kutelan semua sampai kenyang
kemudian,
kumuntahkan dihadapan rembulan
cahayaNya menjilati tepian hati
bagai batu kristal berwarna-warni
yang turun dari langitMu
melumuri mahkotaku

Ini hanya bagian dari mimpi..?

kutelan segaris ukiran ulah rupa dunia
dari masa ke masa
sebait nama tak ubahnya lentera sepi
yang mengingatkan kala sepi menerkam
kutelan juga dalam cengkeraman malam
saat rembulan diam-diam menghilang
kedalam tenggorokan.

AKU TERPANA

Saat hujan kemarin
kudengar.. rumput bernyanyi
di halaman yang tersisa
aku terpana..
betapa mahal harga kejujuran
diatas kesombongan jiwa-jiwa
yang merugi sebab keserakahan sendiri

ada takaran disana
bukan dimata manusia
dengan segala ocehan edannya
ada takaran disana
bukan karena semesta diam
lalu dianggap buta

aku terpana..
diantara :
berjuta materi yang terbuang percuma
berjuta deru bising lalu lalang kendaraan
berjuta debu dan asap merasuk pernafasan
berjuta dosa yang tak mampu terelakkan
sisanya, tetap tumbuh apa adanya

kesadaran..
lebih dari yang terbayangkan
menghiasi hari disetiap perjalanan
saat hujan kemarin,
rumput tetap bernyanyi
diatas halaman yang tersisa
aku terpana…