SETETES AIR

Setetes air jatuh
diatas pecahan kaca cermin
cermin yang telah bertahun menatap
wajah wajah
mempercantik
kecantikan?
atau memoles keburukan
cermin yang setia protes
tanpa kata…
ada garis lurus disana
dipermukaannya
antara pecahan cermin dan setetes air
bias bias cahaya
apa adanya
seperti kita,
sebelum ada.

BULAN SABIT MEMERAH

Dipenghujung senja,
masih saja kau sembunyi
dibalik jeruji ambisi hati

pantaskah bibir ini bicara
atas kelakarmu yang ambigu tak lugu
haha.. kau tertawa, aku pun tertawa

bulan sabit memerah
suara guntur memecah langit
melukis angkasa lewat garis garis cahaya

bulan sabit memerah
saat rindumu enyah menuju entah
ah… desah itu keluar dari hati

basuh jiwa kita sebelum hujan luruh
basahi bumi dan hati yang sedang uh..
agar debu dalam jiwa hilang menjauh

haha.. kau tertawa, aku pun tertawa
dalam nada yang berbeda
mengapa?.

SELAMAT JALAN REMBULAN

aku bersimpuh diatas ribuan doa
dari setumpuk dosa
yang memerah dilangit tuamu
dengan lembut kusapa penyesalan
mengeras pada sudut hatimu
kau memang tak pernah menangis
namun airmatamu telah lama
menyatu dalam bias rembulan
yang sempat kau sembunyikan

aku bersimpuh diatas gemulai daun pinus
dari hempasan badai dilangit tuamu
yang nyaris menenggelamkan semuanya
tentang dirimu
tentang ketenaranmu
tentang duniamu
dan tentang kenakalanmu
kesenangan diatas temali kecanduan
yang kau jadikan hiburan

aku bersimpuh diatas daun kering
yang basah oleh curah hujan dinihari
langit tuamu memerah dicakrawala
berselimut kain sutera tanpa pesona
bahkan kau pun telah kehilangan rasa
kau memang tak pernah menangis
namun airmatamu telah lama menyatu
dalam bias rembulan yang kau sembunyikan

“selamat jalan.. rembulan”

MANIS TIADA RASA

menyibak tirai duka
sepatah kata tersimpan
selepas manis dan sepah dibuang
“jangan bicara seperti itu, semua memang salahku”
bisik hatimu
namun manis telah habis
tiada seorang pun sudi menelan
pahit sendiri
jujur, janji janji
kalimat usang berulang
kini kau tahu segalanya
telah menempuh pahit terlalu lama
hingga datangnya manis tiada rasa
lidahku pahit,
tetapi terasa manis bagi jiwa.

ABADI

seiring resah menggeluti jiwa jiwa yang sepi
tanyakan pada hati..
perburuan apa diatas kerinduan seluruh mimpi?
matahari jadi saksi sejak pagi
membawa lari sejumput ambisi
ah…
seikat cinta masih tertinggal disudut matahati
biarlah… tersisa jingga
atau kelabu
ia tetap abadi
ber-nama cinta.