KEBEBASAN

bagai angin yang berhembus
tanpa aroma
tanpa suara
hening…
dalam nuansa kebekuan
angan terbang melayang
melintas disela tujuan tujuan
tanpa warna warni makna
kau hias sebebas kebebasan
diatas kanvas perjalanan
suara….
suara gemulai meniti hari
suara gaduh menata waktu
sejak berseri mentari pagi
sampai hujan tercurah dari kaki langit, dan
tak mau berhenti
karena hujan punya kebebasan
tersendiri

tawa tawa lepas bebas kebebasanmu silih berganti
bagai suara petir di angkasa bersahutan
mari nikmati dinginnya hujan
sampai malam nanti
bersama angin yang bebas menari-nari
tanpa aroma
tanpa suara
hening…
menelan kebebasan

kebebasan yang kau maknai sendiri..
pada segala ulah rupa dunia.

BULAN DAN KERUDUNG PUTIH

satu satu cahaya lampu meredup
hingar bingar serangga malam
berganti jejak sunyi
ada rasa menggelayut didahan pohon cemara
gemerisik daunnya mengantar damai
diantara bulan dan awan putih

rasanya ingin kusingkap 
agar tak menutup wajah rembulan nan ayu
bukan karena malu dan tak mampu
namun bintang tak memberi jalan menuju kesana

bulan dan dikerudung putih
menari
diantara ribuan masa bercerita
dalam gulungan tirai semesta
sampai tangis sang bayi memecah kesunyian
menyibak kerudung putih
jemput pagi.

KAU YANG TERLELAP

Samar kudengar
kau berharap
diantara lelah
nan terlelap

dalam….
didalam kedalaman
bias sejumput bisu
bangkitkan nostalgia semu
kau pun jemu
menutup aroma tubuhmu
dalam kubangan wewangian

aku tahu, semua itu kau lakukan
bukan sekedar penghias citra diri
atau alasan bagi ketidakmampuanmu
merubah kesenangan melepas keterikatan

aku tahu,
sebagaimana kau tahu
melati tetap akan mekar dan mewangi
meski kuncup-kuncupnya telah kau habisi

adakah sisa-sisa embun pagi yang menegurmu
melipat matahari?
atau adakah gemulai dedaunan berdendang
nyanyikan lagu kemenangan bagimu?

Samar
masih kudengar
kau berharap diantara lelah
nan terlelap..

KACA BURAM

langit masih seperti kemarin
mendung mengurung
tiada debu-debu beterbangan
kupu-kupu pun malas mencumbu sari bunga
saat terbit matahari baru
malu-malu
ia mendekati bunga

tapak jelajah masa
dihunian nan merindang
ada bocah-bocah nyaris terkapar lapar
ada lelaki-lelaki putus asa
ada wanita-wanita tanpa asa
ada gambaran wajah-wajah dirumah mewah
semua bagai kaca buram
tak tampak kedalamannya

ada sorgakah disana?
kalau hidup hanya sketsa kecil
dalam pantulan kaca saja.

Sang Pendosa

betapa mudahnya sembilan nyawa melayang
betapa sedih hatinya mereka yang kehilangan
padahal ‘sang pendosa’ baru saja menghamburkan uang
bagi secuil kesenangan-kesenangan ajakan setan

sebatas apa kesadaran manusia jaman sekarang
tersedia batas waktu pada titik nadir kemunafikan
kesenangan itu akhirnya sia-sia terbuang
… karena kebodohan mereka yang diperbudak setan

” ….Waktu,
senantiasa diam
hanya kejadianlah
yang mengingatkannya.. ”
(by: astrid suryapringga)

ANJLOK

Jemariku mengusap tetes airmata
dipipimu
dingin senyum disudut bibir
menyeruak sebuah tabir
getir…
nada nada sepi
menghilang sesaat
berganti dengan deru-deru hati
berseru dalam detak jantungmu
yang semakin tinggi
tak menentu…
tiada rasa istimewa bagi sepi
yang menerkam
lewati jendela malam
kereta anjlok
di persawahan.

SANG PEMIMPI

Ia bagai pita
yang mengikat bungkus kado
kejutan dari sang kekasih
ia bayangan dalam bayang
yang membayangi citra diri

ia berkaca dengan ambisi
mendandani mimpi
berjalan diatas derap langkah
kemayu angan
angin diam dibuatnya
air telaga tenangpun terkesiap
sekejap
saat bintang jatuh,
ia berteriak…

ia bukan sesiapa
bagi pohon putri malu ditepi telaga
ia berjalan mengintip ambisinya
diantara cahaya bulan diatas telaga
namun…
tak berani bangun
dari tidurnya.

PECINTA BULAN

akulah pecinta bulan
dan kau cemburu
saat kudekap bulan dalam pelukan
kau berburu..

berbekal panah emas
kau tunggangi kuda liar menuju hutan
sisa pepohonan meruas
bunga-bunga ilalangpun beterbangan

apa yang kau cari ditanah gersang?
rumput mengering sebelum hujan datang
mentari nganga sepanjang siang
duuh perihnya…, bukan kepalang

aku pecinta bulan
dan kau cemburu
saat kudekap bulan dalam pelukan
kau makin cemburu..

BAYANG-BAYANG IBU

Ibu, kemejaku lecek dan bau apek
istri malah ngambek-ngambek
disangkanya aku mojok
dengan gadis montok

Ibu, meski bauku mencolok
Kau lebih baik daripada gadis montok
yang melenggang-lenggok
demi uang segepok

Ibu, kemejaku lecek dan bau apek
Kau maklumi kerjaku digudang ucek-mengucek
sampai dirumah malah jadi sumpek
istriku, jadilah seperti ibu yang tak suka ngambek.

>untuk : Ibu Dewi Cahaya

AKHIR TAHUN YANG ISTIMEWA

Aku ingin mendengar tawamu
suara-suara bahasa terompet pada akhir tahun
yang saling tegur sapa tanpa kata
berbusana aneka gaya
dan acara dalam berbagai makna

aku ingin mendengar tangismu
terompet-terompet yang terinjak pada akhirnya
tubuhnya membaur dengan bangkai
bangkai kembang api yang berserakan
kebahagiaan bagi penyapu jalanan

aku ingin mendengar jeritanmu
bahasa terompet pesta seluruh dunia
membahana diakhir tahun yang istimewa
berbagi suka menutup duka
walau hanya memindahkan sebuah angka.